Senin, 23 Juni 2025

makalah analisis puisi amir hamzah



BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar belakang
          Sastra adalah karya dan kegiatan seni yang berhububngan dengan ekspresi dan penciptaan sedangkan Karya Sastra adalah karya yang diciptakan oleh manusia hasil dari refleksi pikiran manusia yang diituangkan dalam bentuk tulisan, maupun gambar. Hasil karya sastra dalam bentuk tulisan misalnya: novel, puisi, cerpen, dll. Semua hasil karya sastra sangat menarik untuk dikaji.
       Dalam penulisan sajak atau puisi, setiap penyair mempersembahkan nya dengan gaya bahasa sendiri. Dan gaya bahasa juga menjadikan sebuah karya itu bermutu tinggi di mata pembaca atau apresiator, biasanya gaya bahasa itu bergantung kepada pengalaman, ilmu dan kemahiran berbahasa yang dimiliki tiap individu.
       Bukan hanya itu, dalam menganalisis puisi kita dapat menggunakan 2model analisis. Analisis yang pertama yaitu pendekatan terhadap karya sastra melalui 4 Kritik, yakni Kritik Mimetik (Mimetik kritikism), Kritik Pragmatik, Kritik Ekspresif, serta Kritik Objektif, lalu analisis yang kedua adalah analisis puisi berdasarkan bentuk dan isinya.
    Oleh sebab itu maka saya akan menganalisis puisi karangan Amir Hamzah dan taufik ismail dengan menggunakan analisis berdasarkan unsur intrinsik yang ada dalam puisi .

B.Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka dapat diketahui beberapa rumusan masalah, yaitu :
1. Bagaimana bentuk dan isi dari puisi karangan Amir Hamzah
2. Bagaimana pendekatan terhadap karya sastra melalui unsur intrinsik puisi karangan amir hmzah dan taufik ismail

C.Tujuan
Dari rumusan masalah diatas maka dapat diketahui beberapa tujuan masalah, yaitu :
1. Mengetahui bentuk dan isi dari puisi karangan Amir Hamzah dan taufik ismail .
2. Mengetahui pendekatan terhadap karya sastra karangan amir hamzah dan taufik ismail di unsur intrinsik puisi



BAB II
LANDASAN TEORI
A.karya sastra
Karya sastra melalui pendekatan struktural seperti yang dikatakan Cuddon, keritik objektif berarti kritik yang menekankan pada struktur karya sastra itu sendiri dengan kemungkinan membebaskan dari dunia perang (1979:662). Selanjutnya bahwa kritik obyektif merupakan kritik yang menempatkan karya sastra  sebagai suatu yang mandiri, otonom dan punya dunia sendiri, kajiannya lebih intrinsik, mengkaji hal-hal yang ada dalam karya sastra itu sendiri (Abraham dalam Esten, 1987: 13)
Karya sastra yang bersifat otonom dengan koherensi yang bersifat intern adalah suatu totalitas antara unsur-unsur yang berkaitan erat antara yang satu dengan yang lain. Dengan kata lain pendekatan ini memandang dan menelaah sastra dari sisi intrinsik karya sastra, yaitu: tema, latar, (setting), perwatakan atau penokohan, alur/plot, sudut pandang, gaya bercerita atau berbahasa dan suspense. Dengan memperhatikan unsur-unsur karya satra tersebut dapat dikatakan bahwa pendekatan struktur berarti menganalisis karya sastra dengan mengungkapkan unsur-unsur yang ada didalamnya, yaitu unsur-unsur yang membina kebulatan struktur. Dalam karya sastra, juga terkandung nilai-nilai. Arti kata nilai adalah harga, tafsiran dan angka (Anda Sontoso, 1990: 264). Kontjaraningrat (1984:25) mengatakan, bahwa nilai itu adalah tingkat utama ideal bagi kehidupan manusia. Tingkat ini adalah ide-ide yang mengkonsepsikan hal-hal yang paling bernilai dalam kehidupan masyarakat, selain itu sistem nilai budaya terdiri dari konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat mengenai hal-hal yang harus mereka anggap bernilai dalam kehidupan. Oleh karena itu sistem nilai dalam sastra adalah unsur-unsur yang penting dalam kehidupan manusia tentang sisi positif dan negatif dalam karya sastra tersebut.
Pengertian nilai merupakan unsur yang baik dan buruknya sesuatu yang dapat ditafsirkan oleh karya sastra tentang nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra itu sendiri sehingga akan dapat diambil suatu kesimpulan dari unsur nilai tersebut (Partanto1990: 321). Nilai dalam sebuah karya sastra tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur yang ada dalam cerita tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa nilai merupakan unsur yang ada di dalamnya.





B.unsur intrinsik puisi
a.   Tema
               Dalam sebuah  puisi tentunya sang penyair ingin mengemukakan sesuatu hal bagi penikmat puisinya. Sesuatu yang ingin diungkapkan oleh penyair dapat diungkapkan melalui puisi atau hasil karyanya yang dia dapatkan melalui pengelihatan,  pengalaman ataupun  kejadian yang pernah dialami atau kejadian yang terjadi pada suatu masyarakat dengan bahasanya sendiri. Dia ingin mengemukakan, mempersoalkan, mempermasalahkan  hal-hal  itu dengan caranya sendiri.  Atau dengan kata lain sang penyair ingin mengemukakan pengalaman pribadinya kepada para pembaca melalui puisinya (Tarigan, 1984: 10). Inilah tema, tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan oleh sang penyair yang terdapat dalam puisinya (Siswanto, 2008: 124).
          Dengan latar belakang pengetahuan yang sama,  penafsir-penafsir puisi akan memberikan  tafsiran tema yang sama bagi sebuah puisi, karena tafsir puisi bersifat lugas, obyektif dan khusus (Waluyo, 1991: 107). Berikut ini dipaparkan macam-macam tema puisi sesuai dengan Pancasila.
1)   Tema Ketuhanan
                 Puisi-puisi bertema ketuhanan biasanya akan menunjukkan religius experience atau “pengalaman religi” penyair yang didasarkan tingkat kedalaman pengalaman ketuhanan seseorang. Dapat juga dijelaskan sebagai tingkat kedalaman iman seseorang  terhadap agamanya atau lebih luas lagi terhadap Tuhan atau kekuasaan gaib (Waluyo, 1991: 107). Kedalaman rasa ketuhanan itu tidak lepas dari bentuk fisik yang terlahir dalam pemilihan kata, ungkapan, lambang, kiasan dan sebagainya yang menunjukkan betapa erat hubungan antara penyair dengan Tuhan. Juga menunjukkan bagaimana penyair ingin Tuhan mengisi seluruh kalbunya. (Waluyo, 1991: 108).
2)   Tema Kemanusiaan
Tema kemanusiaan bermaksud  menunjukkan betapa tingginya martabat manusia dan bermaksud  meyakinkan pembaca bahwa setiap manusia memiliki harkat dan martabat yang sama. Perbedaan kekayaan, pangkat dan kedudukan seseorang tidak boleh menjadi sebab adanya perbedaan perlakuan terhadap kemanusiaan seseorang (Waluyo, 1991: 112).
3)   Tema Patriotisme / Kebangsaan
Tema patriotisme dapat meningkatkan perasaan cinta akan bangsa dan tanah air. Banyak puisi yang melukiskan perjuangan merebut kemerdekaan dan mengisahkan  riwayat pahlawan yang berjuang merebut kemerdekaan atau melawan penjajah. Tema patriot juga dapat diwujudkan dalam bentuk usaha penyair untuk membina kesatuan  bangsa atau membina rasa kenasionalan (Waluyo, 1991: 115).
4)   Tema Kedaulatan Rakyat
Penyair begitu sensitif  perasaannya untuk memperjuangkan kedaulatan rakyat dan menentang sikap sewenang-wenang pihak yang berkuasa, di dapati dalam puisi protes. Penyair berharap orang yang berkuasa memikirkan nasib si miskin. Diharapkan penyair agar kita semua mengejar kekayaan pribadi, namun juga mengusahakan kesejahteraan bersama.
5)   Tema Keadilan Sosial
Nada protes sosial sebenarnya lebih banyak menyuarakan tema keadilan sosial dari pada tema kedaulatan rakyat. Yang dituliskan dalam tema keadilan sosial adalah ketidakadilan dalam masyarakat dengan tujuan untuk mengetuk nurani pembaca agar keadilan sosial ditegakkan dan diperjuangkan.
b.   Perasaan Penyair (Feeling)
Perasaan (feeling) merupakan sikap penyair terhadap pokok persoalan yang ditampilkannya. Perasaan penyair dalam puisinya dapat dikenal melalui penggunaan ungkapan-ungkapan  yang digunakan dalam puisinya karena dalam menciptakan puisi suasana hati penyair juga ikut diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca (Waluyo, 1991: 121). Hal ini selaras dengan pendapat Tarigan (1984:11)  yang  menyatakan bahwa rasa adalah sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terkandung dalam puisinya.
c.    Nada dan Suasana
Menurut Tarigan (1984: 17) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan nada dalam dunia perpuisian adalah sikap sang penyair terhadap pembacanya atau dengan kata lain sikap sang penyair terhadap para penikmat karyanya.
d.   Amanat (Pesan)
Penyair sebagai sastrawan dan anggota masyarakat baik secara sadar atau tidak merasa bertanggugjawab menjaga kelangsungan hidup sesuai dengan hati nuraninya. Oleh karena itu, puisi selalu ingin mengandung amanat (pesan). Meskipun penyair tidak secara khusus dan sengaja mencantumkan amanat dalam puisinya. amanat tersirat di balik kata dan juga di balik tema yang diungkapkan penyair (Waluyo, 1991: 130). Amanat adalah maksud yang hendak disampaikan atau himbauan,pesan, tujuan yang hendak disampaikan penyair melalui puisinya.
2.    Struktur Fisik Puisi
 Struktur fisik puisi adalah  unsur pembangun puisi dari luar (Waluyo, 1991: 71). Puisi disusun dari kata dengan bahasa yang indah dan bermakna yang dituliskan dalam bentuk bait-bait. Orang dapat membedakan mana puisi dan mana bukan puisi berdasarkan bentuk lahir atau fisik yang terlihat.
Berikut ini akan dibahas struktur fisik puisi yang meliputi : diksi, imajinasi, kata konkret, majas, verifikasi, majas dan tipografi.
a.   Diksi atau Pilihan Kata
Salah satu hal yang ditonjolkan  dalam  puisi adalah  kata-katanya ataupun  pilihan katanya. Bahasa merupakan sarana utama dalam puisi. Dalam menciptakan sebuah puisi penyair mempunyai tujuan yang hendak disampaikan kepada pembaca melalui puisinya. Penyair ingin mencurahkan perasaan dan isi pikirannya dengan setepat-tepatnya seperti yang dialami hatinya. Selain itu juga ia ingin mengekspresikannya dengan ekspresi yang dapat menjelmakan pengalaman jiwanya. Untuk itulah harus dipilih kata-kata yang setepat-tepatnya. Penyair juga ingin mempertimbangkan perbedaan arti yang sekecil-kecilnya dengan cermat.
Penyair harus cermat memilih kata-kata karena kata-kata yang ditulis harus dipertimbangkan maknanya, kompisisi bunyi, dalam rima dan irama serta kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya, dan kedudukan kata dalam keseluruhan  puisi  itu. Dengan uraian singkat diatas, ditegaskan kembali betapa pentingnya diksi bagi suatu puisi. Menurut Tarigan (1984: 30), pilihan kata yang tepat dapat mencerminkan ruang, waktu, falsafah, amanat, efek, nada suatu puisi dengan tepat.

b.   Imajinasi
            Semua penyair ingin menyuguhkan pengalaman batin yang pernah dialaminya kepada para pembacanya melalui karyanya. Salah satu usaha untuk memenuhi keinginan tersebut ialah dengan pemilihan serta penggunaan kata-kata dalam puisinya (Tarigan, 1984: 30). Ada hubungan yang erat antara pemilihan kata-kata, pengimajian dan kata konkret, di mana diksi yang dipilih harus menghasilkan dan  karena itu kata-kata menjadi lebih konkret seperti yang kita hayati dalam penglihatan, pendengaran atau cita rasa. Pengimajian dibatasi dengan pengertian kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris seperti penglihatan, pendengaran dan perasaan (Waluyo, 1991:  97).
          Pilihan serta penggunaan kata-kata yang tepat dapat memperkuat serta memperjelas daya bayang  pikiran  manusia dan energi tersebut dapat mendorong imajinasi atau daya bayang kita untuk menjelmakan gambaran yang nyata. Dengan menarik perhatian kita pada beberapa perasaan jasmani sang penyair berusaha membangkitkan pikiran dan perasaan para penikmat sehingga mereka menganggap bahwa merekalah yang benar-benar mengalami peristiwa jasmaniah tersebut (Tarigan, 1984: 30). Dengan  menarik perhatian pembacanya melalui kata dan daya imajinasi akan memunculkan sesuatu yang lain yang belum pernah dirasakan oleh pembaca sebelumnya.  Segala yang dirasai atau dialami secara imajinatif inilah yang biasa dikenal dengan istilah imagery atau imaji atau pengimajian (Tarigan, 1984: 30).
          Dalam puisi kita kenal bermacam-macam (gambaran  angan) yang dihasilkan oleh indera pengihatan, pendengaran, pengecapan, rabaan, penciuman, pemikiran dan gerakan (Pradopo, 1990: 81). Selanjutnya terdapat juga imaji penglihatan (visual), imaji pendengaran (auditif) dan imaji cita rasa (taktil) (Waluyo, 1991: 79).  Semua imaji di atas bila dijadikan satu, secara keseluruhan dikenal beberapa macam imajinasi, yaitu :
1)   Imajinasi Visual, yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca seolah-olah         seperti melihat sendiri apa yang dikemukakan atau diceritakan oleh penyair.
2)   Imajinasi Auditori, yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca seperti mendengar  sendiri apa yang dikemukakan penyair. Suara dan bunyi yang             dipergunakan tepat sekali untuk melukiskan hal yang dikemukakan, hal ini sering menggunakan kata-kata onomatope.
3) Imajinasi Articulatori, yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca seperti                      mendengar bunyi-bunyi dengan artikulasi-artikulasi tertentu pada bagian       mulut waktu kita membaca sajak itu seakan-akan kita melihat gerakan-gerakan mulut membunyikannya, sehingga ikut bagian-bagian mulut kita dengan sendirinya
4)Imajinasi Olfaktori, yakni imajinasi penciuman atau pembawaan dengan membaca atau mendengar kata-kata tertentu kita seperti mencium bau sesuatu. Kita seperti mencium bau rumput yang sedang dibakar, kita seperti mencium          bau tanah yang baru dicangkul, kita seperti mencium bau bunga mawar, kita           seperti mencium bau apel yang sedap dan sebagainya.
5)Imajinasi Gustatori, yakni imajinasi pencicipan. Dengan membaca atau    mendengar kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu kita seperti mencicipi suatu   benda yang menimbulkan rasa asin, pahit, asam dan sebagainya.
6) Imajinasi Faktual, yakni imajinasi rasa kulit, yang menyebabkan kita seperti       merasakan di bagian kulit badan kita rasanya nyeri, rasa dingin, atau rasa panas oleh tekanan udara atau oleh perubahan suhu udara.
7)Imajinasi Kinaestetik, yakni imajinasi gerakan tubuh atau otot yang menyebabkan kita merasakan atau melihat gerakan badan atau otot-otot tubuh.
8)Imajinasi Organik, yakni imajinasi badan yang menyebabkan kita seperti melihat atau merasakan badan yang capai, lesu, loyo, ngantuk, lapar, lemas, mual, pusing dan sebagainya.
Imaji-imaji di atas tidak dipergunakan secara terpisah oleh penyair melainkan dipergunakan bersama-sama, saling memperkuat dan saling menambah kepuitisannya (Pradopo, 1990: 81).
c.    Kata Konkret
Salah satu cara untuk membangkitkan daya bayang atau daya imajinasi para penikmat sastra khususnya puisi adalah dengan menggunakan kata-kata yang tepat, kata-kata yang kongkret, yang dapat menyaran pada suatu pengertian menyeluruh. Semakin tepat sang penyair menggunakan kata-kata atau bahasa dalam karya sastranya maka akan semakin kuat juga daya pemikat untuk penikmat sastra sehingga penikmat sastra akan merasakan sensasi yang berbeda. Para penikmat sastra akan menganggap bahwa mereka benar-benar  melihat, mendengar, merasakan, dan mengalami segala sesuatu yang dialami oleh sang penyair (Tarigan, 1984: 32). Dengan keterangan singkat diatas maka dapat disimpulkan bahwa kata konkret adalah kata-kata yang dapat di tangkap dengan indra (Siswanto, 2008: 119).
d.   Majas atau Bahasa Figuratif
Penyair menggunakan bahasa yang bersusun-susun atau berpigura sehingga disebut bahasa figuratif. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Bahasa figuratif adalah bahasa yang digunakan oleh penyair untuk menyatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambang (Waluyo, 1991: 83).
            Bahasa kias merupakan wujud penggunaan bahasa yang mampu mengekspresikan  makna dasar ke asosi lain. Kiasan yang tepat dapat menolong pembaca merasakan dan melihat seperti apa yang dilihat atau apa yang dirasakan penulis. Seperti yang diungkapkan Pradopo bahwa kias dapat menciptakan gambaran angan/ citraan (imagery) dalam diri pembaca yang menyerupai gambar yang dihasilkan oleh pengungkapan penyair terhadap obyek yang dapat dilihat mata, saraf penglihatan, atau daerah otak yang bersangkutan (1990:80). Bahasa figuratif dipandang lebih efektif untuk menyatakan apa yang dimaksudkan penyair karena: (1) Bahasa figuratif mampu menghasilkan kesenangan imajinatif, (2) Bahasa figuratif dalah cara untuk menghasilkan imaji tambahan dalam puisi sehingga yang abstrak menjadi kongret dan menjadikan puisi lebih nikmat dibaca, (3) Bahasa figuratif adalah cara menambah intensitas, (4) Bahasa figuratif adalah cara untuk mengkonsentrasikan makna yang hendak disampaikan dan cara menyampaikan sesuatu yang banyak dan luas dengan bahasa yang singkat (Waluyo, 1991: 83).


Adapun bahasa kias yang biasa digunakan dalam puisi ataupun karya sastra lainnya yaitu:
1)   Perbandingan/ Perumpamaan (Simile)
          Perbandingan atau perumpamaan (simile) ialah bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal yang lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, bak, semisal, seumpama, laksana dan kata-kata pembanding lainnya.
2)   Metafora
          Bahasa kiasan seperti perbandingan, hanya tidak mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, laksana dan sebagainya. Metafora ini menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama atau seharga dengan yang lain yang sesungguhnya tidak sama.
3)   Personifikasi
          Kiasan ini mempersamakan benda dengan manusia. Benda-benda  mati dibuat dapat berbuat, berfikir dan sebagainya. Seperti halnya manusia dan banyak dipergunakan penyair dulu sampai sekarang. Personifikasi membuat hidup lukisan di samping itu memberi kejelasan kebenaran, memberikan bayangan angan yang konkret.
4)   Hiperbola
Kiasan yang berlebih-lebihan. Penyair merasa perlu melebih-lebihkan hal yang dibandingkan itu agar mendapat perhatian yang lebih seksama dari pembaca.
5)   Metonimia
Bahasa kiasan yang lebih jarang dijumpai pemakaiannya. Metonimia ini dalam bahasa Indonesia sering disebut kiasan pengganti nama. Bahasa ini berupa penggunaan sebuah atribut sebuah objek atau penggunaan sesuatu yang sangat dekat hubungannya dengan mengganti objek tersebut.
6)   Sinekdoki (Syneadoche)
Bahasa kiasan yang menyebutkan sesuatu bagian yang penting suatu benda (hal) untuk benda atau hal itu sendiri.
Sinekdoke ada dua macam
- Pars Prototo : sebagian untuk keseluruhan
- Totum Proparte : keseluruhan untuk sebagian
(Pradopo, 1990: 78).
7)   Allegori
Cerita kiasan ataupun lukisan kiasan. Cerita kiasan atau lukisan kiasan ini mengkiaskan hal lain atau kejadian lain.


Perlambangan yang dipergunakan dalam puisi :
a)    Lambang warna
b)   Lambang benda : penggunaan benda untuk menggantikan sesuatu yang ingin   diucapkan.
c)   Lambang bunyi : bunyi yang diciptakan penyair untuk melambangkan   perasaan tertentu.
d)   Lambang suasana : suasana yang dilambangkan dengan suasana lain yang        lebih konkre
e.    Verifikasi (Rima, Ritma dan Metrum)
Versifikasi terdiri dari rima, ritma dan metrum.
1)   Rima
Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk  musikalisasi  atau orkestrasi sehingga puisi menjadi menarik untuk dibaca.
Dalam puisi banyak jenis rima yang kita jumpai antara lain :
a)    Menurut bunyinya :
(1)     Rima sempurna bila seluruh suku akhir sama bunyinya
(2)     Rima tak sempurna bila sebagian suku akhir sama bunyinya
(3)     Rima mutlak bila seluruh bunyi kata itu sama
(4)     Asonansi perulangan bunyi vokal dalam satu kata
(5)     Aliterasi : perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan
(6)     Pisonansi (rima rangka) bila konsonan yang membentuk kata itu sama,                               namun vokalnya berbeda.
b)   Menurut letaknya:
(1)     Rima depan : bila kata pada permulaan baris sama
(2)     Rima tengah : bila kata atau suku kata di tengah baris suatu puisi itu sama
(3)     Rima akhir bila perulangan kata terletak pada akhir baris
(4)     Rima tegak bila kata pada akhir baris sama dengan kata pada permulaan  baris
(5)     Rima datar bila perulangan itu terdapat pada satu baris.
2)   Ritma
Pertentangan  bunyi, tinggi rendah, panjang pendek, keras lemah, yang mengalun dengan teratur dan berulang-ulang sehingga membentuk keindahan (Waluyo, 1991: 94). Ritma terdiri dari tiga macam, yaitu :
a)    Andante : Kata yang terdiri dari dua vokal, yang menimbulkan irama lambat
b)   Alegro : Kata bervokal tiga, menimbulkan irama sedang
c)    Motto Alegro : kata yang bervokal empat yang menyebabkan irama cepat.
3)   Metrum
          Perulangan kata yang tetap bersifat statis (Waluyo, 1991: 94). Nama metrum didapati dalam puisi sastra lama. Pengertian metrum menurut Pradopo adalah irama yang tetap, pergantiannya sudah tetap menurut pola tertentu (Pradopo, 1990: 40). Peranan  metrum  sangat penting dalam pembacaan puisi dan deklamasi.
f.     Tipografi atau Perwajahan
Ciri-ciri yang dapat dilihat sepintas dari puisi adalah perwajahannya atau tipografinya. Melalui indera mata tampak bahwa puisi tersusun atas kata-kata yang membentuk larik-larik puisi. Larik-larik itu disusun ke bawah dan terikat dalam bait-bait.  Banyak kata, larik maupun bait ditentukan oleh keseluruhan makna puisi yang ingin dituliskan penyair. Dengan demikian satu bait puisi bisa terdiri dari satu kata bahkan satu huruf saja. Dalam hal cara penulisannya puisi tidak selalu harus ditulis dari tepi kiri dan berakhir di tepi kanan seperti bentuk tulisan umumnya. Susunan penulisan dalam puisi disebut tipografi (Pradopo, 1990: 210).
Struktur fisik puisi membentuk tipografi yang khas puisi. Tiprografi  puisi merupakan bentuk visual yang bisa memberi makna tambahan dan bentuknya bisa didapati pada jenis puisi konkret. Tipografi bentuknya bermacam-macam antara lain berbentuk grafis, kaligrafi, kerucut dan sebagainya. Jadi tipografi memberikan ciri khas puisi pada periode angkatan tertentu.




Bab III
Analisis data
A.Biografi sastrawan
·    Amir hamzah
Tengku Amir Hamzah yang bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera adalah seorang sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru. Nama Amir Hamzah diberikan oleh sang ayah, Tengku Muhammad Adil, karena kekagumannya kepada Hikayat Amir Hamzah. Dia lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur pada tanggal 28 Februari 1911 dalam lingkungan keluarga bangsawan Melayu (Kesultanan Langkat). Amir Hamzah mulai mengenyam pendidikan pada umur 5 tahun dengan bersekolah di Langkatsche School di Tanjung Pura pada 1916. Setamat dari Langkatsche School, Amir Hamzah melanjutkan pendidikannya di MULO, sekolah tinggi di Medan. Setahun kemudian, Amir Hamzah pindah ke Batavia (Jakarta) untuk melanjutkan sekolah di Christelijk MULO Menjangan dan lulus pada tahun 1927. Amir Hamzah kemudian melanjutkan studinya di AMS.
            Di sana dia mengambil disiplin ilmu pada Jurusan Sastra Timur. Amir Hamzah adalah seorang siswa yang memiliki kedisiplinan tinggi. Disiplin dan ketertiban itu nampak pula dari keadaan kamarnya. Segalanya serba beres, buku-bukunya rapih tersusun di atas rak, pakaian tidak tergantung di mana saja, dan sprei tempat tidurnya pun licin tidak kerisit kisut. Persis seperti kamar seorang gadis remaja. Selama mengenyam pendidikan di Solo, Amir Hamzah mulai mengasah minatnya pada sastra sekaligus obsesi kepenyairannya. Pada waktu-waktu itulah Amir Hamzah mulai menulis  beberapa sajak pertamanya yang kemudian terangkum dalam antologi Buah Rindu yang terbitAglemenee Middelbare School 
 merupakan sekolah lanjutan tingkat atas di Solo, Jawa Tengah.
 pada tahun 1943. Pada waktu tinggal di Solo, Amir Hamzah juga menjalin pertemanan dengan Armijn Pane dan Achdiat K Mihardja. Ketiganya sama-sama mengenyam pendidikan di AMS Solo, bahkan mereka satu kelas di sekolah itu. Di kemudian hari, ketiga orang ini mempunyai tempat tersendiri dalam ranah kesusastraan di Indonesia. Setelah menyelesaikan studinya di Solo, Amir Hamzah kembali ke Jakarta untuk melanjutkan studi ke Sekolah Hakim Tinggi pada awal tahun 1934. Semasa di Jakarta, rasa kebangsaan di dalam jiwa Amir Hamzah semakin kuat dan berpengaruh pada wataknya. Bersama beberapa orang rekannya di Perguruan Rakyat, termasuk Soemanang, Soegiarti, Sutan Takdir Alisyahbana, Armijn Pane, dan lainnya, Amir Hamzah menggagas penerbitan majalah Poedjangga Baroe. Amir Hamzah mulai menyiarkan sajak-sajak karyanya ketika masih tinggal di Solo. Di majalah Timboel yang diasuh Sanusi Pane, Amir Hamzah menyiarkan puisinya berjudul “Mabuk” dan “Sunyi” yang menandai debutnya di dunia kesusastraan Indonesia. Sejak saat itu,  banyak sekali karya sastra yang dibuat oleh Amir Hamzah. Revolusi sosial yang meletus pada 3 Maret 1946 menjadi akhir bagi kehidupan Amir Hamzah. Dia menjadi salah satu korban penangkapan yang dilakukan oleh pasukan Pesindo. Kala itu pasukan Pesindo menangkapi sekitar 21 tokoh feodal termasuk di antaranya adalah Amir Hamzah pada 7 Maret 1946. Pada tanggal 20 Maret 1946, orang-orang yang ditangkap itu dihukum mati. Amir Hamzah wafat di Kuala Begumit dan dimakamkan di pemakaman Mesjid Azizi. Amir Hamzah kemudian diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 106/ tahun 1975, tanggal 3 November 1975 Hingga kematiannya, Amir Hamzah telah mewariskan 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris, 1 prosa liris terjemahan, 13 prosa, dan 1 prosa terjemahan. Jumlah keseluruhan
karya itu adalah 160 tulisan. Jumlah karya tersebut masih ditambah dengan Setanggi Timur yang merupakan puisi terjemahan, dan terjemahan Bhagawat Gita. Dari jumlah itu, ada juga beberapa tulisan yang tidak sempat dipublikasikan. Berdasarkan hal yang disebutkan di atas, maka penulis tertarik untuk mengangkat dan menulis tentang Amir Hamzah ini sebagai bahan referensi dan syarat kelulusan dari mata kuliah Sejarah Pergerakan di Sumatera Timur, Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya USU dengan  judul :
Perjuangan Tengku Amir Hamzah Di Langkat Tahun 1946
·                  Taufik ismail
Taufiq Ismail lahir di Bukittinggi, 25 Juni 1935. Masa kanak-kanak sebelum sekolah dilalui di Pekalongan. Ia pertama masuk sekolah rakyat di Solo. Selanjutnya, ia berpindah ke Semarang, Salatiga, dan menamatkan sekolah rakyat di Yogya. Ia masuk SMP di Bukittinggi, SMA di Bogor, dan kembali ke Pekalongan. Pada tahun 1956--1957 ia memenangkan beasiswa American Field Service Interntional School guna mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Wisconsin, AS, angkatan pertama dari Indonesia.
Ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Indonesia (sekarang IPB), dan tamat pada tahun1963. Pada tahun 1971--1972 dan 1991--1992 ia mengikuti International Writing Program, University of Iowa, Iowa City, Amerika Serikat. Ia juga belajar pada Faculty of Languange and Literature, American University in Cairo, Mesir, pada tahun 1993. Karena pecah Perang Teluk, Taufiq pulang ke Indonesia sebelum selesai studi bahasanya.
Semasa mahasiswa Taufiq Ismail aktif dalam berbagai kegiatan. Tercatat, ia pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa FKHP UI (1960--1961) dan Wakil Ketua Dewan Mahasiswa (1960--1962).
Ia pernah mengajar sebagai guru bahasa di SMA Regina Pacis, Bogor (1963-1965), guru Ilmu Pengantar Peternakan di Pesantren Darul Fallah, Ciampea (1962), dan asisten dosen Manajemen Peternakan Fakultas Peternakan, Universitas Indonesia Bogor dan IPB (1961-1964). Karena menandatangani Manifes Kebudayaan, yang dinyatakan terlarang oleh Presiden Soekarno, ia batal dikirim untuk studi lanjutan ke Universitas Kentucky dan Florida. Ia kemudian dipecat sebagai pegawai negeri pada tahun 1964.
Taufiq menjadi kolumnis Harian KAMI pada tahun 1966-1970. Kemudian, Taufiq bersama Mochtar Lubis, P.K. Oyong, Zaini, dan Arief Budiman mendirikan Yayasan Indonesia, yang kemudian juga melahirkan majalah sastra Horison (1966). Sampai sekarang ini ia memimpin majalah itu.
Taufiq merupakan salah seorang pendiri Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM), dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) (1968). Di ketiga lembaga itu Taufiq mendapat berbagai tugas, yaitu Sekretaris Pelaksana DKJ, Pj. Direktur TIM, dan Rektor LPKJ (1968--1978). Setelah berhenti dari tugas itu, Taufiq bekerja di perusahaan swasta, sebagai Manajer Hubungan Luar PT Unilever Indonesia (1978-1990).
Pada tahun 1993 Taufiq diundang menjadi pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia.
Sebagai penyair, Taufiq telah membacakan puisinya di berbagai tempat, baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Dalam setiap peristiwa yang bersejarah di Indonesia Taufiq selalu tampil dengan membacakan puisi-puisinya, seperti jatuhnya Rezim Soeharto, peristiwa Trisakti, dan peristiwa Pengeboman Bali.

Hasil karya Taufik Ismail antara lain:
1. Tirani, Birpen KAMI Pusat (1966)
2. Benteng, Litera ( 1966)
3. Buku Tamu Musium Perjuangan, Dewan Kesenian Jakarta (buklet baca puisi) (1972)
4. Sajak Ladang Jagung, Pustaka Jaya (1974)
5. Puisi-puisi Langit, Yayasan Ananda (buklet baca puisi) (1990)
6. Prahara Budaya (bersama D.S. Moeljanto), Mizan (1995)
7. Ketika Kata Ketika Warna (editor bersama Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabbar, Amri Yahya, dan Agus Dermawan, antologi puisi 50 penyair dan repoduksi lukisan 50 pelukis, dua bahasa, memperingati ulangtahun ke-50 RI), Yayasan Ananda (1995)
8. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Yayasan Ananda (1998)
Beberapa Karya terjemahan:
1. Banjour Tristesse (terjemahan novel karya Francoise Sagan, 1960)
2. Cerita tentang Atom (terjemahan karya Mau Freeman, 1962)
3. Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam (dari buku The Reconstruction of Religious Thought in Islam, M. Iqbal (bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad), Tintamas (1964)
Atas kerja sama dengan musisi sejak 1974, terutama dengan Himpunan Musik Bimbo (Hardjakusumah bersaudara), Chrisye, Ian Antono, dan Ucok Harahap, Taufiq telah menghasilkan sebanyak 75 lagu.
Ia pernah mewakili Indonesia baca puisi dan festival sastra di 24 kota di Asia, Amerika, Australia, Eropa, dan Afrika sejak 1970. Puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, Sunda, Bali, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan Cina.
















B. Puisi dan unsur intrinsik
Ø  Puisi Amir hamzah dan unsur intrinsik

CEMPAKA…
Kaya : amir hamzah

Cempaka, aduhai bunga penglipur lara
Tempat cinta duduk bersemayam
Sampaikan pelukku, wahai kusuma
Pada dinda setiap malam

Sungguh harum sedup malam
Sungguh pelik bunga kamboja
Tetapi tuan, aduhai pualam
Pakaian adinda setiap masa

Sungguh tak kelihatan ia berbunga
Cempaka tersembunyi dalam sanggul
Tetapi harumnya, aduhai kelana
Didalam rambut duduk tersimpul

Amat bersahaja cempaka bunga
Putih arona, hijau nan tampuk
Pantas benar suntingan adinda
Terlebih pula disanggul duduk









1.      Unsur intrinsik isi puisi
·         Objek : wanita
Karena dalam puisi cempaka tersebut meceritakan rasa kagum kepada seorang wanita .

·         Tema : cinta kepada pujaan hati
   Puisi yang berjudul cempaka tentang cinta kepada pujaan hati perhatikan bait ke 1:
Cempaka, aduhai bunga penglipur lara
Tempat cinta duduk bersemayam
Sampaikan pelukku, wahai kusuma
Pada dinda setiap malam
            Menjelaskan tentang bunga cempaka yang berbaunya harum berwarna putih ,si penyair menyatakan “aduhai” rasa kagum kepada wanita .”penglipur lara” si penyair ketika memikirkan wanita tersebut susah melakukan perbuatan apa,hilang lenyap rasanya ketika memikirkan wanita tersebut karena rasa cinta yang terlalu berlebihan .
·         Nada :  sikap penyair terhadap objek dalam puisi tersebut adalah  bahagia,lantas kebahagiaan perasaannya ia komunikasikan pula kepada pembaca dengan di ibaratkan bunga cempaka yang berbaunya harum sekali .nada puisi “cempaka” adalah senang ,bahagia terdapat dalam bait pertama
Cempaka, aduhai bunga penglipur lara
Tempat cinta duduk bersemayam
Sampaikan pelukku, wahai kusuma
Pada dinda setiap malam
·         Rasa : “cempaka aduhai penglipur lara “ dan”sungguh pelik bunga kamboja “. Dari penjelasan tersebut menggambarkan rasa kangen oleh seseorang penyair terhadap seseorang  wanita dan ras rindu.penyair menggambarkan rasa kangen tersebut di ibaratkan bunga cempaka dan kamboja yang buah nya harum.
·         Amanat : ingin memberitahu perasaan yang di alami terhadap pujaan hatinya dan ingin si pembaca mengetahui bunga cempaka dan kamboja hanpir sama dan berbaunya harum.


2.      Unsur bentuk atau Struktur  
·         Diksi : Dari puisi cempaka bahwa kata-kata di pilih amir hamzah adalah kata-kata yang di anggap mengandung nilai tertentu dan tepat menyentuh hati para pembaca .contoh nya bunga “cempaka” dan “kamboja” yang berbaunya harum berwarna putih karena makna denotativ nya sama .
·         Pengimajian : visual
karena melihat sesuatu yang indah dilihat tergambar ibaratkan seorang wanita dan keimajinasian yaitu bersifat imajinatif dan penuh perasan.
·         kata kongkrit :
Cempaka, aduhai bunga penglipur lara
Tempat cinta duduk bersemayam
Dari dua pernyataan tersebut memberikan gambaran tetntang bunga  yang berbaunya harum sehingga mampu “aduhai”menyatakan rasa kagum kepada seseorang dan bunga cempaka tersebut di ibaratkan sesuatu tempat yang menaruh cinta .
·         Gaya Bahasa : personifikasi dan metafora
Cempaka, aduhai bunga penglipur lara
Tempat cinta duduk bersemayam
Sampaikan pelukku, wahai kusuma
Pada dinda setiap malam

Sungguh harum sedup malam
Sungguh pelik bunga kamboja
Tetapi tuan, aduhai pualam
Pakaian adinda setiap masa
            Karena dalam puisi cempaka membuat perbandinga dua hal yang secara langsung dalam bentuk singkat yang menghubungkan pokok pertam dan kedua.dan menggunakan benda-benda mati yang bernyawa seolah-olah bernyawa menjadi memiliki sifat .
·         Rima : silang
Sungguh harum sedup malam (a)
Sungguh pelik bunga kamboja(b)
Tetapi tuan, aduhai pualam(a)
Pakaian adinda setiap masa(b)
·         Irama : sahdu atau santai
Karena penuh perasaan dan perenungan rasa cinta kepada seseorang .
·         Tipografi :rata kiri karena penulisan tiap bait nya adalah si sebelah kiri .




NAIK-NAIKhttp://sastrawan.com/components/com_djclassifieds/themes/default/images/fav_na.png
Karya : Amir Hamzah
Membubung badanku, melambung, mengawan
naik, naik, tipis-rampis, kudus halus
melayang-terbang, mengembang-kembang
menyerupa-rupa merona-warni langit-lazwardi.

Bertiup badai merentak topan
larikan daku hembuskan badan
tepukkan daku ke puncak tinggi
ranggitkan daku kelengkung pelangi...

Tenang-tenang anginku sayang
tinggalkan badan di lengkung benang
reda-reda badaiku dalam
ulikkan sepoi sunyikan dendam.

Biarkan daku tinggal di sini
sentosa diriku di sunyi sepi
tiada berharap tiada meminta
jauh dunia di sisi dewa.













1.      Unsur intrinsik isi
·         objek  : roh atau dewa
tiada berharap tiada meminta
jauh dunia di sisi dewa.
            Tidak berkeinginan tidak mengarapkan sesuati “jauh dunia di sisi dewa”jauh tidak dekati dengan bumi di sisi samping dewa di ibaratkan roh yang di anggap di percayai sebagai makhluk halus yang bekuasa atas alam semesta .
·         tema : Doa kepada dewa
Bertiup badai merentak topan
larikan daku hembuskan badan
tepukkan daku ke puncak tinggi
ranggitkan daku kelengkung pelangi             
Bait pertama menggambarkan sebuah cobaan yang menghembuskan .dan dalam kutipan di atas terdapat kalimat “bertiup badai merentak topan’angin kencang yang menyertai cuaca buruk sehingga menyentakan kaki dan mengambarkan sebuah cobaan yang meninggalkan bekas .
·         Nada :Persaan gundah gelisah lantas kegelisahan atau kegundahan persaanya ia komunikasikan pula kepada pembaca dengan di ibaratkan bertiup badai merentak topan .
·         Rasa :
Membubung badanku, melambung, mengawan
naik, naik, tipis-rampis, kudus halus
melayang-terbang, mengembang-kembang
menyerupa-rupa merona-warni langit-lazwardi.
            Dalam bait ke satu emosi yang taik nurun oleh seorang penyair dan menggambarkan cobaan yang menghembuskan perassan seseorang tokoh atau penulis yang di dalam nya terdapat rasa gundah gelisah .
·         Amanat : amanat yang ingin di sampaikan adalah bahwa dalam dirinya salam diri seseorang pasti akan mempunyai cobaan dan harus tegar.




2.      Unsur Bentuk atau  Struktur
·         diksi : dalam puisi amir hamzah penuh dengan kata konotasi dan kata-kata yang mengangap nilai tertentu supaya menyentuh hati para pembaca misalnya “bertiup badai merentak topan ‘’.
·         Kata kongrit : “bertiup badai merentak topan “angina yang kencang menyertai cuaca buruk “merentak “menyentakan kaki menjelaskan tetntang keadaan dan kegelisahan terhadap sang pencipta dan ibaratkan tak berdaya .
·         Gaya Bahasa : gaya bahas alusi  karena dalam puisi berjudul naik naik menunjukan secara tidak langsung atau langsung ke suatu peristiwa,contohnya pada bait ke dua ;
Bertiup badai merentak topan
larikan daku hembuskan badan
tepukkan daku ke puncak tinggi
ranggitkan daku kelengkung pelangi...
·         Rima : Rima kembar
Tenang-tenang anginku sayang(a)
tinggalkan badan di lengkung benang
(a)
reda-reda badaiku dalam
(a)
ulikkan sepoi sunyikan dendam
(a)
·         Irama : sedih
Karena memohon kepada sang dewa dalam menggambarkan liriknya terasa sedih dengan penuh penghayatan
·         Tipografi :rata kiri karena penulisan perbaitnya yaitu perbaitnya di sebelah kiri contohnya dalam bait satu sampe terakhir .










PURNAMA RAYA
karya: Amir Hamzah
 Purnama raya
bulan bercahaya
amat cuaca
ke mayapada

Purnama raya
gemala berdendang
tuan berkata
naiklah abang

Purnama raya
bujang berbangsi
kanda mara
memeluk dewi

Purnama raya
bunda mengulik
nyawa adinda
tuan berbisik.

Purnama raya
gadis menutuk
setangan kuraba
pintu diketuk

Purnama raya
bulan bercengkerama
beta berkata
tinggallah nyawa


Purnama raya
kelihatan jarum
adinda mara
kanda dicium

Purnama raya
cuaca benderang
permata kekanda
pulanglah abang..

1.      Unsur intrinsik isi
·         objek : purnama raya /bulan
objek bulan karena pada saat itu bulan terlihat terang semua dan semua orang sedang beraktifitas pada suasana bulan terang.
·         Tema : keindahan bulan
Keindahan pada bulan dan disitu cuaca bulan sangat cerah dapat di simpulkan pada kutipan’’purnam raya ‘’di situ di jelaskan pada suasana bulan bundar benar dan besar dan becahaya dam di perjelas dengan “amat cuaca’’ yang artinya sangat timbul Nampak indah.
Di perjelas dengan bait terakhir
Purnama raya
cuaca benderang
permata kekanda
pulanglah abang...
Bait tersebut dapat disimpulkan tentang keadaan pada bulan yang becahaya seperti melihat takjub.
·         Nada :mengajak
sikap penyair terhadap pembaca mengajak dan memberitahu saja ,lantas memberitahu nya ia komunikasikan kepada pembaca “purnama raya’’bulan yang bercahacahaya bulat dan sempurna .
·         Rasa : gembira
Karena dalam bait pertama menceritakan keindahan purnama raya pada waktu cerah dan bulat dan pada bait kedua menceritakan akan kenangan ayah nya di perjelas lagi bait ke tiga menggambarkan kegembiraan pada seseorang.
·         Amanat : penyair pada situasi bulan yang terang indah dilihat semua orang juga mengalami kegembiraan pada saat itu .

2.      Unsur bentuk atau Struktur
·         Diksi : diksi yang terdapat dalam purnama raya mengandung nilai keindahan yang tak ternilai oleh semua orang “purnama raya “ yang artinya bulan yang bulat besar becahaya .
·         Pengimajian : imajinasivisual karena menggambarkan purnama raya  dalam situasi apapun dengan ke indahan nya terliahat dari bait pertama
Purnama raya
cuaca benderang
permata kekanda
pulanglah abang...
·         Kata kongkrit :
Purnama raya
cuaca benderang
permata kekanda
pulanglah abang...
            Di dalam bait dia atas di jelaskan saat bulan bundar dan cerah “amat”ke “mayapada” bumi yang menyinari begitu indah .
·         Gaya Bahasa : alusi
Karena pada tiap bait secara lansung ke peristiwa langsung yaitu peristiwa alam contohnya pada bait ke dua
Purnama raya
bujang berbangsi
kanda mara
memeluk dewi
            Artinya pada bulan bercahaya ada “pangguk”burung elang  malam yang suka memandang bulan ‘’merayu’’meras terharu melihat keaadaan tersebut.
·         Rima : rima kembar dan rima silang
Purnama raya  (a)
bulan bercahaya
  (a)
amat cuaca
(a)
ke mayapada
(a)
Purnama raya
(a)
gemala berdendang
(b)
tuan berkata
(a)
naiklah abang
(b)


·         Irama : mentrum,persamaan dan gembira
karena jika membaca dalam keadaan nyaring puisi maka iramanya akan mendekati persamaan ,dan gembira.
·         Tipografi :RATA KIRI
Karena pada tiap bait nya yaitu penulisan nya di kiri .





























Buah rindu.

Karya : amir hamzag
Dikau sambur limbur pada senja
Dikau alkamar purnama raya
Asalkan kanda bergurau senda
Dengan adinda tajuk mahkota.
Di tuan rama – rama melayang
Di dinda dendang sayang
Asalkan kanda selang menyelang
Melihat adinda kekasih abang.
Ibu, seruku laksana pemburu
Memikat perkutut di pohon ru
Sepantun swara laguan rindu
Menangisi kelana berhati mutu
Kelana jauh duduk merantau
Dibalik gunumg dewala hijau
Diseberang laut cermin silau
Tanah jawa mahkota pulau…
Buah kenangku entah kemana
Lalu mengembara kesini sana
Haram berkata sepatah jua
Ia lalu meninggalkan beta.
Ibu lihatlah anakmu muda belia
Setiap waktu sepanjang masa
Duduk termenung berhati duka
Laksana Asmara kehilangan seroja.
Bunda waktu tuan melahirkan beta
Pada subuh kembang cempaka
Adakah ibunda menaruh sangka
Bahwa begini peminta anakda ?
Wah kalau begini naga – naganya
Kayu basah dimakan api
Aduh kalau begini laku rupanya
Tentulah badan lekaslah fani.
1.unsur intrinsik isi
·         Objek : seorang wanita pujaan hati.
Karena dalam puis buah rindu si penyair sedang di landa rindu kepada kekasihnya .
·         Tema : dilanda rindu kepada kekasih.
Pengarang pada saat itu sedang di landa rindu kepada kekasihnya karena merantau jauh ,di tengah kegalauan kerinduan dirinya  kepada gadis itu . amir hamzah pun menceritakan apa yang di alaminya kepada ibunya .contohnya pada bait pertama ;
Dikau sambur limbur pada senja
Dikau alkamar purnama raya
Asalkan kanda bergurau senda
Dengan adinda tajuk mahkota.
“dikau sambur libur pada senja “Kamu seperti penerang aku menemui titik sulit dalam hidup“dikau alkamar purnama raya “kamu baaikan penerang di saat aku menemui ttik sulit dalam hidup .
·         Nada :memberiahu
Nada pada puis buah rindu tersebut memberitahu kepada pembaca pada saat itu agar bisa mencuri waktu dan mampu berjumpa dengan kekasihnya ,terlihat dalam bait ke dua
Di tuan rama – rama melayang
Di dinda dendang sayang
Asalkan kanda selang menyelang
Melihat adinda kekasih abang
·         Rasa :kangen rindu
Karena puisi buah rindu merupakan ungkapan  isi hatinya pada saat itu ,kau meninggalkan aku tanpa mengatakan apapun sebelumnya tiba-tiba memutuskan pergi dan sedih penyair tersebut .tergambarkan dalam bait ke lima



Buah kenangku entah kemana
Lalu mengembara kesini sana
Haram berkata sepatah jua
Ia lalu meninggalkan beta.
·         Amanat : amanat yang ingin di sampaikan pada pembaca adalah ingin mengungkapkan isi hatinya karena buah rindu atau wanita tersebut pergi begitu saja tanpa sebab sehingga penyair tersebut merindukan nya .
2.Unsur bentuk atau Struktur  
·         Diksi : pilihan kata yang di sampaikan oleh pengarang tersebut menggambarkan isi  hatinya karena buah rindu pergi begitu saja tanpa sebab.sehingga penyair tersebut merindukannya .
·         Pengimajian : imajinasi visual
Karena ingin mencurahkan perasaannya ungkapan isi hatinya pada saat itu dan melihat bayangan terhadap seseorang yang di sayanginya  terlihat dalam bait pertama :
Dikau sambur limbur pada senja
Dikau alkamar purnama raya
Asalkan kanda bergurau senda
Dengan adinda tajuk mahkota
·         Kata kongkrit : “melihat adinda kekasih abang ‘’ itu menjelaskan bahwa yang di rindukan dan kecwakan nya adalah kekasih tercinta .’’ia meninggalkan beta ‘’ dalam kutipan tersebut jelas bagaimana ia meninggal kan beta yaitu aku.
·         Gaya Bahasa : asosiasi dan hiperbola
Gaya Bahasa asosiasi ‘’KAYU BASAH DI MAKAN API’’
Dan gaya Bahasa hiperbola terdapat dalam bait pertama
Dikau sambur limbur pada senja
Dikau alkamar purnama raya
Asalkan kanda bergurau senda
Dengan adinda tajuk mahkota.



·         Rima : rima kembar
Puisi buah rindu mempunyai 32 baris dengan bentuk seakan bercerita  dan mempunyai rima kembar terdapat dalam bait ke enam .
Ibu lihatlah anakmu muda belia (a)
Setiap waktu sepanjang masa(a)
Duduk termenung berhati duka(a)
Laksana Asmara kehilangan seroja.(a)
·         Irama : sahdu
Karena dalam isi cerita tiap bait nya yaitu tentang kerinduan terhadap kekasihnya  dan mendalami isi dalam cerita tersebut.
·         Tipografi : rata kiri karena penulisan tiap bait nya adalah si sebelah kiri .





BERLAGU HATIKU
karya: Amir Hamzah
Bertangkai bunga kusunting
kujunjung kupuja, kurenung
berlagu hatiku bagai seruling
kukira sekalini menyecap untung.

Dalam hatiku kuikat istana
kusemayamkan tuan digeta kencana
kuhamburkan kusuma cempaka mulia
kan hamparan turun dewi kakanda...

Tetapi engkau orang biasa
merana sahaja tiada berguna
malu bertalu kerana aku
ganjil terpencil berpaut kedahulu.



1.unsur intrinsik isi
·         Objek : seorang wanita
karena dalam judul tersebut berlagu hatiku sudah jelas yang artinya dengan sebuah perasaan.
·         Tema :kegelisahan perasaan
Bertangkai bunga kusunting
kujunjung kupuja, kurenung
berlagu hatiku bagai seruling
kukira sekalini menyecap untung.
            Karena dalam bait pertama menjelaskan bagaimana rasa kegelisahaan pada seseorang yang di puja dan memandang bunga lama-lama dalam kegelisahaan nya seperti mengalir dalam seruling ke dalam hati .
·         Nada : sikap penyair terhadap pembaca yaitu memberitahu kegelisahaan hatinya pada pembaca dan terhadap objek nya yaitu kepada perempuan terdapat dalam kutipan “beritangkai bunga kusunting ‘’

·         Rasa : kangen sedih,gelisah,senang
Karena dalam puisi tersebut perasaan penyair campur aduk dalam perasaan tersebut di ibaratkan bunyi seruling.
Dan terdapat dalam bait ke dua dan ketiga
Dalam hatiku kuikat istana
kusemayamkan tuan digeta kencana
kuhamburkan kusuma cempaka mulia
kan hamparan turun dewi kakanda...

Tetapi engkau orang biasa
merana sahaja tiada berguna
malu bertalu kerana aku
ganjil terpencil berpaut kedahulu
·         Amanat : ingin memberitahu bagaimana isi hatinya yang sedang penuh perasaan sedih,gelisah,senang terhadap pujaan hatinya

2.unsur bentuk struktur
·         diksi :pilihan kata dari puisi tersebut adalah “berlagu hatiku “ artinya dengan lagu jadi dengan lagu merasakan kenikmatan rasa yang berbeda ,dengan menceritakan perasaan yang di alami oleh pengarang.
·         pengimajian : imajinasi verbal dan visual karena terdapat oleh kata kata-katadalam pikiran manusiadan proses didalam otak terdapat dalam bait pertama yang menggambarkan imajinasi verbal.

·         kata kongkrtit : “bertangkai bunga ku sunting kujungjung kupuja kurenung” di dalam rangkaian tersebut menjelaskan tentang kegelisahan hatinya yang di ibaratkan bunga yang di petik seperti perasaanya yang pada saat itu setelah dipetik di pikirkan keadaan perasaanya pada saat itu.
·         Gaya Bahasa : -bahasa personifikasi jenis gaya bahasa ini dapat di jumpai pada baris ketiga, bait pertama yakni pada “berlagu hatiku”hati yang merupakan organ tubuh dan benda mati di ibaratkan sebagai benda hidup karena dianggap dapat berlagu atau bernyanyi. Bahkan dianggap dengan merdu bagaikan suara seruling, hal ini dapat dilihat pada bait pertama barisan ketiga “berlagu hatiku bagai seruling”.

-gaya bahasa aferesis: dapat dilihat pada bait pertama dan kedua, yakni, pada ka kusunting , kujungjung, kupuja, kurenung, kukira, kuikat,kusemayamkan ,kuhamburkan.

·         Rima : rima kembar dan rima terus
Bertangkai bunga kusunting (a)
kujunjung kupuja, kurenung
(a)
berlagu hatiku bagai seruling
(a)
kukira sekalini menyecap untung.
(a)

Dalam hatiku kuikat istana
(a)
kusemayamkan tuan digeta kencana
(a)
kuhamburkan kusuma cempaka mulia
(b)
kan hamparan turun dewi kakanda...
(b)
·         irama : metrum
karena dalam bait ,memabaca iramanya tetap karena oleh suku kata yang terakhir tetap contoh nya dalam bait ke tiga.
Tetapi engkau orang biasa
merana sahaja tiada berguna
malu bertalu kerana aku
ganjil terpencil berpaut kedahulu

·         tipogrfi :rata kiri karena dalam tiap baitnya penulisan di sebelah kiri.







MALAM
karya: Amir Hamzah
Daun bergamit berpaling muka
mengambang tenang di laut cahaya
tunduk mengurai surai terurai
kelapa lampai melambai bidai.

nyala pelita menguntum melati
gelanggang sinar mengembang lemah
angin mengusap menyeyang pipi
balik-berbalik menyerah-yerah.

Air mengalir mengilau-sinau
riak bergulung pecah memecah
nagasari keluar meninjau
membanding purnama di langit cerah.

Lepas rangkum pandan wangi
terserak harum pemuja rama
hinggap mendakap kupu berahi
berbuai-buai terlayang lena

Adikku sayang berpangku guring
rambutmu tuan kusut melipu
aduh bahagia bunga kemuning
diri dihimpit kucupan rindu.








1.      unsur intrinsik isi
·         objek : wanita
karena dalam tiap baitnya menceritakan keindahan pada malam dan merindukan pujaan hatinya .
·         tema : kerinduan pada malam hari
karena dalam bait bait pertama menjelaskan tentang
“daun bergamit berpaling di muka “
Daun bergoyang terkena hembusan angin sehingga kelopak daun tidak bertemu antara bagian atas dan bagian bawah.
“mengembang tenang di laut
Tunduk mengurai suari terurai”
            Dalam kutipan  di atas menjelaskan dauin iyu begitu tenang seperti perasaannya.”tunduk mengurai surai terurai” bila di kejauhan di malam hari yang hanya di hiasi sinar rembulan .
·         nada : sikap penyair hanya ingin memeberitahu saja atau memberitahu terhadap objek dalam puisi malam tersebut,kerinduannya komunikasikan pula pada suasana malam hari yang tenang.
·         Rasa : rindu,kangen
sikap penyair terhadap objek atau pokok persoalan yang di hadapinya adalah rindu pada bait ke tiga
Air mengalir mengilau-sinau
riak bergulung pecah memecah
nagasari keluar meninjau
membanding purnama di langit cerah.
            Pada bait ketiga menjelaskan wangi dan daun pandan yang terhempas oleh angin ,sehingga menyebarkan wanginya kemana-mana menjebak siapapun yang mencium wanginya .sehingga terbuai yang memabukan seperti kerinduan pada kekasihnya
·         Amanat :ingin memberitahu suasana pada malam hari kepada pembaca bait terakhir suasana malam hari itu dilanda kerinduan pada pujaan hati .



2.      Unsur bentuk atau isi
·         Diksi : pilihan kata pada puisi tersebut “malam”karena menjelaskan suasana pada malam hari contoh terdapat dalam bait ke tiga larik ke satu “air mengalir mengilau senau” air yang terlihat silau sebab terkena cahaya .
Air mengalir pecah memecah
Riak berguling pecah memecah
Nagasari keluar meninjau
Membanding purnama raya
            Menjelaskan air yang agak berombak terkena hembusan angin malam,lalu ada  yang keluar membandingkan bulan purnama di langit yang cerah sungguh paduan warna yang kontras.
·         Pengimajian : karena dalam tiap bait menjelaskan suasana pada malam hari dan terbentuk dengan kata-kata sendiri
·         Kata kongkrit :’’membandingkan purnama di langit cerah” pengarang menjelaskan suasana pada malam hari yang cerah sehingga bulan terlihat jelas.
·         Gaya bahasa : hiperbola terdapat dalam bait ke tiga
Air mengalir mengilau-sinau
riak bergulung pecah memecah
nagasari keluar meninjau
membanding purnama di langit cerah
            Karena bersifat melebihkan sesuatu ,sehingga mendapatkan susuna kata yang indah dalam puis dan gaya bahasa personifikasi terdapat pada bait ke satu .
·         Rima : rima silang
Air mengalir mengilau-sinau (a)
riak bergulung pecah memecah
(b)
nagasari keluar meninjau
(a)
membanding purnama di langit cerah
(b)
·         Irama :bunyi yang berturut-turut seacara teratur,naik dan tetap
·         Tifografi :rata kiri karena dalam puisi awalan penulisan puisi di sebelah kiri.
BERDIRI AKU
http://www.sastrawan.com/components/com_djclassifieds/themes/default/images/fav_na.pngkarya: Amir Hamzah

Berdiri aku di senja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang

Angin pulang menyeduk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas.

Benang raja mencelup ujung
Naik marak mengerak corak
Elang leka sayap tergulung
dimabuk wama berarak-arak.

Dalam rupa maha sempuma
Rindu-sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Menyecap hidup bertentu tuju



1.      Unsur intrinsik isi
·         Objek : wanita
Karena dalam objek tersebut menceritakan perpisahan dengan kekasihnya dan dia harus pulang ke medan menikah dengan putrid pamannya .
·         Tema : kesedihan yang mendalam
Tema tersebut kesedihan yang mendalam digambarkan dalam suasana pantai sore pada bait pertama:
Berdiri aku di senja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang
            Dengan demikian penyair hanya mampu melihat keindahan alam sekitar karena kebahagiaanya dan harapan telah hilang, wujud perasaan galau penyair dalam beberapa bait perasaanya seperti di permainkan ombak dan angim.
·         Nada : sikap penyair terhadap pembaca memeberitahu hatinya yang dilanda sedih terdapat dalam bait ke tiga.
 Benang raja mencelup ujung
Naik marak mengerak corak
Elang leka sayap tergulung
dimabuk wama berarak-arak.
Dalam kutipan tersebut pembaca membertahu keindahan pantai pada waktu sore yang sunyi sehingga kesedihan hati nya kerasa.                 
·         Rasa : poko persoalanya yang dihadapinya kesedihan karena perpisahan dengan kekasihnya perasan sedih yang sangat mendalam digambarkan penyair dengan suasana sunyi di pantai sore.

·         Amanat : ingin tidak dipisahkan kekasih yang dirindukannya dan tidak mau meskipun dia harus pualng ke medan karena pernikahan dengan putri pamannya harus ditolak .




2.      Unsur bentuk atau Struktur isi
·         Dikisi: pilihan kata yang di pilih adalah yang penuh kontasi contoh nya kata “maha sempurna “ dalam akhir bait juga merupakan arti kontasi dari tuhan yang maha sempurna.
·         Pengimajian : imajinasi visual karena seolah-olah melihat suasana pantai yang indah. Keindahan yang harus terlihat dari bait pertama.
Berdiri aku di senja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang
·         Kata kongrit: “berdiri aku “dari judul tersebut sudah terlihat seseorang  yang  sedang berdiri memikirkan sesuatu yang sedang memikirkan seseorang .
·         Gaya bahasa :  gaya bahasa personifikasi ada juga gaya metafora yang terlihat dari kalimat “benang raja” mencelup ujung dan dalam rupa “maha sempurna” penyiar membandingkan apa yang dilihat dan dialami dengan kata “benang raja”dan “maha sempurna”.
·         Rima : rima silang karena terdapat tiap bait sampe akhir rimanya silang contoh:
Angin pulang menyeduk bumi       (a)
Menepuk teluk mengempas emas (b)
Lari kegunung memuncak sunyi     (a)
Berayun-ayun di atas                          (b)
·         Irama:  iramannya persamaan karena susu kata dalam puisi yang telah tetap, sehingga kemukinan irama tetap akan terwujud contoh pada bait ke tiga
Benang raja mencelup ujung
Naik marak mengerak corak
Elang leka sayap tergulung
dimabuk wama berarak-arak.
                        Tipografi : tifografi dalam puisitersebut adalah rata kiri karena tiap baris disebelah kiri.
Ø  Puisi taufik ismail  dan unsur intrinsik


SEORANG TUKANG RAMBUTAN PADA ISTRINYA
“Tadi siang ada yang mati,
Dan yang mengantar banyak sekali
Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah
Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!
Sampai bensin juga turun harganya
Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula
Mereka kehausan datam panas bukan main
Terbakar muka di atas truk terbuka

Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita, bu
Biarlah sepuluh ikat juga
Memang sudah rezeki mereka
Mereka berteriak-teriak kegirangan dan berebutan
Seperti anak-anak kecil
“Hidup tukang rambutan! Hidup tukang rambutani”
Dan menyoraki saya. Betul bu, menyoraki saya
Dan ada yang turun dari truk, bu
Mengejar dan menyalami saya
“Hidup pak rambutan!” sorak mereka
Saya dipanggul dan diarak-arak sebentar
“Hidup pak rambutan!” sorak mereka
“Terima kasih, pak, terima kasih!
Bapak setuju karni, bukan?”
Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara
“Doakan perjuangan kami, pak,”
Mereka naik truk kembali
Masih meneriakkan terima kasih mereka
“Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!”
Saya tersedu, bu. Saya tersedu
Belum pernah seumur hidup
Orang berterima-kasih begitu jujurnya
Pada orang kecil seperti kita.

1.unsur intrinsik isi
·         Objeg : pemerintah
 karena sikap penyair terhadap kenaikan harga.
·         Tema : keadilan rakyat
 karena unjuk rasa para mahasiswa/rakyat terhadap pemerintah yang menaikan harga. Dari demo tersebut ada salah satu yang tewas demi memperjuangkan agar harga barang turun demi kepentingan masarakat.Terbentuk dalam kutipan puisi di bawah ini .
“Tadi siang ada yang mati,
Dan yang mengantar banyak sekali
Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah
Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!
Sampai bensin juga turun harganya
Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula
Mereka kehausan datam panas bukan main
Terbakar muka di atas truk terbuka
           
·         Nada:  keritikan pada pemerintah yang menimbulkan suasan yang kacau dan semangat dalam memberontak karena banyak mahasiswa yang pantang menyerah dalam memperjuangkan hak-hak rakyat.
·         Rasa: perasaan terhadap puisi tersebut marah karena pemerintah yang melakukan hal kesewenangan dengan menaikan harga.
·         amanat: melakukan hal sekecil apapun dan kita melakukan dengan iklas ,maka akan mendapatkan balasan yang lebih besar. Contoh pada tukang rambutan yang mengucapkan terimakasi terhadap mahasiswa yang telah berunjuk rasa.








2.unsur Bentuk  atau Struktur isi
·         Diksi : tidak menggunakan diksi karena banyak menggunakan kata-kata dalam kehidupan sehari-hari. Dari pada menggunakan kata-kata konotatif. Contoh
            Tadi siang ada yang mati
            Dan yang mengantar banyak sekali
·         Pengimajian : imajinasi visual contohnya
            Tadi siang ada yang mati
            Dan yang mengantar banyak sekali
                        Imajinasi : imajinasi taktil ( sesuatu dapat dirasakan ) yang dulu berteriak : dua raus,dua ratus
·         Kata kongkrit : “ terbakar mukanya di atas truk terbuka “ maksudnya adalah para demostran kepanasan dengan sinar matahari yang sangat terik
·         Gaya bahasa: hiperbola
“Terbakar mukanya di atas truk terbuka”
·         Irama :  tiap lariknya banyak menggunakan huruf a yang di padu dengan huruf u yang melambakan kebenaranian mahasiswa
·         Rima : rima bebas
Karena dalam bait nya tidak ada rima nya sehingga dapat di katakana rima bebas .
·         Tipografi: tipografi yang terdapat dalam puisi tersebut memiliki larik-larik yang hamper sama panjang antara larik pertama dan keduannya disebabkan karena untuk pemasatan makna disetiap lariknya.







Kerendahan hati
            Karya : taufik ismail
Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
Yang tegak di pucuk bukit
Jadilah belukar ,tetapi belukar yang baik,
Yang tumbuh di depan danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar ,
Jadilah saja rumput,tetapi rumput yang
Memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

 Tidaklah semua menjadi kapten
Tentu harus ada awak kapalnnya…
Bukan besar kecilnya tugas yang
Menjadikan tinggi
Rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu..
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri











1.unsur intrinsik isi
·         Objek : semua orang
Karena dalam puisi kerendahan hati menujukan kepada semua orang untuk menjadi dirinya sendiri. Walaupun baik buruk nya dirinya sendiri.
·         Tema : jadilah diri sendiri
Dapat disimpulkan tentang kerendahan hati seseorang untuk bisa menjadi dirinya sendiri, yang terpenting mampu menjadi seorang  yang bermanfaat bagi orang lain.
·         Nada:  hening
Karena puisi ini banyak menggunakan perumpamaan yang menyuruh manusia merendahkan diri dan bermanfaat bagi orang lain suasana hening tersebut dapat dikutip di bait tersebut dibawah ini
            Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
            Jadilah saja jalan kecil
            Iya tetapi jalan setapak yang
            Membawa orang ke mata air
·         Rasa: haru
Karena dalam puisi ini dijelaskan apakah kita sudah bermanfaat bagi orang lain, Sedangkan sebagai manusia harus bisa membantu orang  lain yang membutuhkan semua orang tau kita tidak dapat hidup tanpa orang lain.
·         amanat: kita sebagai manusia jangan lah sombong dan penyair itu memberitahu kepada pembaca harus memiliki sikaprendah hati, membantu orang yang membutuhkandan menjadi diri kita sendiri.
2. unsur bentuk atau struktur
·         Diksi: perumpamaan
karena dalam puisi “kedalaman hati “ perumpamaan yang digunakan seperti tumbuhan ataupun sebuah tempat . seperti pada potongan puisi tersebut.
            Kalau kamu tak sanggup menjadi
            Belukar
            Jadilah saja rumput , tetap rumput yang
            Memperkuat tanggul pinggir jalan
            Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
            Jadikan saja jalan kecil
·         Pengima jian: visual “ yang tegak di puncak bukit “ seolah melihat puncak bukit  yang gagah dan tegak.
·         Kata kongkrit:
“kalau kamu tak sanggup menjadi belukar.
Jadikan saja rumput,tetap rumput yang memperkuat tanggul pinggir jalan” maksudnya tidak harus meniru seorang atau ingin menjadi seperti orang lain tidaklah perlu cukup menjadi dirinya saja sudah membuat orang lain bahagia.
·         Gaya bahasa : personifikasi terlihat dari potongan puisi “jalan setapak yang membawa ke mata air “ dan kalimat gaya bahasa hiperbola “tidak semua kapten menjadi kapten “
·         Rima: rima bebas tetapi meskipun demikian hal ini tidak mempengaruhi keindahan dari makna puisi ini
·         Irama: penuh perasaan dan haru karena sikap penyiar ingin menyampaikan pesan kepada si pembaca.
·         Tipografi:  larik-larik yang hamper tidak sama dengan larik berikutnya larik pertama dan kedua merupakan kalimat sambung. Karena ingin menjawab dari kalimat sebelumnya.
Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
Yang tegak di puncak bukit
jadilah berlukar, tetapi belukar yang baik.
memperkuat tanggul pinggir jalan
           







Karangan Bunga

Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu.
Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang di tembak mati
siang tadi’
(Taufiq Ismail, Tirani, 1966)

1.unsur intrinsik
·         Objek : pahlawan
Karena dalam puisi tersebut menjelaskan bagaimana sikap penyair tehadap pahlawan yang melawan tirani
·         Tema : pengorbanan seorang pahlawan
Puisi ini bertema kan tentang pengorbanan seorang pahlawan dalam melawan golongan tirani, yang pada akhirnya tewas ditembak dan akhirnya hanya meninggalkan tangisan diantara keluarganya . terbukti dalam bait ke dua:
Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang di tembak mati
·         Nada : duka
 Karena puisi ini menjelaskan  tentang pengorbanan seseorang yang rela berkorban demi melawan seorang tirani dan puisi ini juga di ciptakan untuk mengenang bagai mana pada masa tirani .




·         Rasa : Rasa yang terdapat dalam puisi ini adalah rasa haru dan duka kepada tiga anak kecil yang membawa karangan bunga dan terbukti dalam bait di bawah ini
Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang di tembak mati
·         Amanat  ; kita harus berjuang melawan ketidakadilan terhadap tirani. Meskipun kita harus mengorbankan diri kita sendiri seperti pengorbanan para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan.dan mengingat jasa pahlawan.

2.Unsur Bentuk atau Struktur
Diksi : Diksi dalam puisi ini banyak menggunakan kata-kata yang bersifat konotatif sehingga dapat menimbulkan makna yang ambigu. Selain bersifat konotatif, puisi ini juga banyak menggunakan perumpamaan yang mampu memperindah puisi, Agar pembaca turut merasakan kedukaan, dalam puisi ini banyak menggunakan kata ditembak mati, pita hitam, pemakaman dan sebagainya.
Pengimajian ; pengimajian yang digunakan imaji visual, imaji taktil serta imaji auditif.
imajinasi visual ;
 Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
 imajinasi  auditif dan imajinasi taktil :                                                                             
Datang ke Salemba
Ini dari kami bertiga                                                             (
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut
Bagi kakak yang ditembak mati






Kata Konkret :
            Kata konkret yang ada dalam puisi ini salah satunya terdapat dalam potongan puisi berikut :
Alma Mater, janganlah bersedih
Bila arakan ini bergerak pelahan
Menuju pemakaman
Maksudnya dari potongan puisi itu merupakan suara seseorang yang mengatakan bahwa mahasiswa tidak boleh menangis biarkan keranda mengantarkan mayat temannya ke pemakaman.
Gaya Bahasa ;
            Bahasa figuratif yang terdapat dalam puisi ini ada beberapa macam, salah satu diantaranya adalah metafora atau perumpamaan yang terdapat dalam salah potongan bait berikut ini :
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
   Maksudnya Tiga anak kecil disini merupakan tiga orang mahasiswa yang datang ke rumah rekannya di Salemba yang meninggal karena ditembak mati.
   Irama :
          Dalam puisi ini juga jelas menggunakan konsonan  dan dapat menambah suasana duka dalam puisi ini.terdapat dalam bait berikut:
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu.
·         Rima ; rima bebas karena dalam puisi taufik ismail tidak memiliki rima dan  rima tersebut adalah bebas
  Tipografi
            Tipografi yang terdapat dalam puisi Karangan Bunga adalah pada saat menunjukan keterangan waktu, penyair menyimpannya ke dalam larik yang berbeda. Hal ini bertujuan untuk menjelaskan proses terjadinya sebuah kejadian.



BAB IV
KESIMPULAN
A.    Kesimpulan
Karya sastra merupakan hasil karya manusia yang berupa imajinasi nya ,karya sastra di bagi menjadi tiga yaitu puisi,prosa fiksi, dan drama.karya puisi amir hamzah dan taufik ismail yang di analisis berdasarkan unsur intrinsiknya dapat di simpulakan bahwa karangan puisi amir hamzah banyak menggunakan bahasa konotif dan kurang di mengerti sehingga pembaca harus menterjemahkan terlebih dahulu kata tersebut dan dapat mengetahui isi bacaan tersebut . sedangkan puisi karya taufik ismail penggunaan bahasa nya dapat di mengerti karna menggunakan bahasa sehari-hari .




Daftar Pustaka

Herman J. Waluyo. 2010. Pengkajian dan apresiasi puisi. Salatiga: Widya Sari Press
Nurvidha. 2010. Sejarah pujanga baru. Di unduh dari http://nurvidha.wordpress.com hari rabu 20 April 2011 pukul 10.00 wib
http://www.biografiku.com/2009/11/biografi-taufik-ismail.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar