BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar belakang
Sastra
adalah karya dan kegiatan seni yang berhububngan dengan ekspresi dan penciptaan
sedangkan Karya Sastra adalah karya yang diciptakan oleh manusia hasil dari
refleksi pikiran manusia yang diituangkan dalam bentuk tulisan, maupun gambar.
Hasil karya sastra dalam bentuk tulisan misalnya: novel, puisi, cerpen, dll.
Semua hasil karya sastra sangat menarik untuk dikaji.
Dalam penulisan sajak atau puisi, setiap penyair mempersembahkan nya dengan
gaya bahasa sendiri. Dan gaya bahasa juga menjadikan sebuah karya itu bermutu
tinggi di mata pembaca atau apresiator, biasanya gaya bahasa itu bergantung
kepada pengalaman, ilmu dan kemahiran berbahasa yang dimiliki tiap individu.
Bukan hanya
itu, dalam menganalisis puisi kita dapat menggunakan 2model analisis. Analisis
yang pertama yaitu pendekatan terhadap karya sastra melalui 4 Kritik, yakni
Kritik Mimetik (Mimetik kritikism), Kritik Pragmatik, Kritik Ekspresif, serta
Kritik Objektif, lalu analisis yang kedua adalah analisis puisi berdasarkan
bentuk dan isinya.
Oleh sebab itu maka saya akan
menganalisis puisi karangan Amir Hamzah dan taufik ismail dengan menggunakan
analisis berdasarkan unsur intrinsik yang ada dalam puisi .
B.Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka dapat diketahui
beberapa rumusan masalah, yaitu :
1. Bagaimana bentuk dan isi dari puisi karangan Amir Hamzah
1. Bagaimana bentuk dan isi dari puisi karangan Amir Hamzah
2. Bagaimana pendekatan terhadap
karya sastra melalui unsur intrinsik puisi karangan amir hmzah dan taufik
ismail
C.Tujuan
Dari rumusan masalah diatas maka dapat diketahui beberapa tujuan masalah, yaitu :
1. Mengetahui bentuk dan isi dari puisi karangan Amir Hamzah dan taufik ismail .
2. Mengetahui pendekatan terhadap
karya sastra karangan amir hamzah dan taufik ismail di unsur intrinsik puisi
BAB II
LANDASAN TEORI
LANDASAN TEORI
A.karya
sastra
Karya sastra melalui pendekatan struktural seperti yang
dikatakan Cuddon, keritik objektif berarti kritik yang menekankan pada struktur
karya sastra itu sendiri dengan kemungkinan membebaskan dari dunia perang
(1979:662). Selanjutnya bahwa kritik obyektif merupakan kritik yang menempatkan
karya sastra sebagai suatu yang mandiri, otonom dan punya dunia sendiri,
kajiannya lebih intrinsik, mengkaji hal-hal yang ada dalam karya sastra itu
sendiri (Abraham dalam Esten, 1987: 13)
Karya sastra yang bersifat otonom dengan koherensi yang
bersifat intern adalah suatu totalitas antara unsur-unsur yang berkaitan erat
antara yang satu dengan yang lain. Dengan kata lain pendekatan ini memandang
dan menelaah sastra dari sisi intrinsik karya sastra, yaitu: tema, latar,
(setting), perwatakan atau penokohan, alur/plot, sudut pandang, gaya bercerita
atau berbahasa dan suspense. Dengan memperhatikan unsur-unsur karya satra
tersebut dapat dikatakan bahwa pendekatan struktur berarti menganalisis karya
sastra dengan mengungkapkan unsur-unsur yang ada didalamnya, yaitu unsur-unsur
yang membina kebulatan struktur. Dalam karya sastra, juga terkandung nilai-nilai.
Arti kata nilai adalah harga, tafsiran dan angka (Anda Sontoso, 1990: 264).
Kontjaraningrat (1984:25) mengatakan, bahwa nilai itu adalah tingkat utama
ideal bagi kehidupan manusia. Tingkat ini adalah ide-ide yang mengkonsepsikan
hal-hal yang paling bernilai dalam kehidupan masyarakat, selain itu sistem
nilai budaya terdiri dari konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar
warga masyarakat mengenai hal-hal yang harus mereka anggap bernilai dalam
kehidupan. Oleh karena itu sistem nilai dalam sastra adalah unsur-unsur yang
penting dalam kehidupan manusia tentang sisi positif dan negatif dalam karya
sastra tersebut.
Pengertian
nilai merupakan unsur yang baik dan buruknya sesuatu yang dapat ditafsirkan
oleh karya sastra tentang nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra itu
sendiri sehingga akan dapat diambil suatu kesimpulan dari unsur nilai tersebut
(Partanto1990: 321). Nilai dalam sebuah karya sastra tidak dapat dipisahkan
dari unsur-unsur yang ada dalam cerita tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa
nilai merupakan unsur yang ada di dalamnya.
B.unsur
intrinsik puisi
a. Tema
Dalam sebuah puisi tentunya sang penyair ingin
mengemukakan sesuatu hal bagi penikmat puisinya. Sesuatu yang ingin diungkapkan
oleh penyair dapat diungkapkan melalui puisi atau hasil karyanya yang dia
dapatkan melalui pengelihatan,
pengalaman ataupun kejadian yang
pernah dialami atau kejadian yang terjadi pada suatu masyarakat dengan
bahasanya sendiri. Dia ingin mengemukakan, mempersoalkan, mempermasalahkan hal-hal
itu dengan caranya sendiri. Atau
dengan kata lain sang penyair ingin mengemukakan pengalaman pribadinya kepada
para pembaca melalui puisinya (Tarigan, 1984: 10). Inilah tema, tema adalah
gagasan pokok yang dikemukakan oleh sang penyair yang terdapat dalam puisinya
(Siswanto, 2008: 124).
Dengan latar belakang pengetahuan yang
sama, penafsir-penafsir puisi akan
memberikan tafsiran tema yang sama bagi
sebuah puisi, karena tafsir puisi bersifat lugas, obyektif dan khusus (Waluyo,
1991: 107). Berikut ini dipaparkan macam-macam tema puisi sesuai dengan
Pancasila.
1) Tema Ketuhanan
Puisi-puisi
bertema ketuhanan biasanya akan menunjukkan religius
experience atau “pengalaman religi” penyair yang didasarkan tingkat
kedalaman pengalaman ketuhanan seseorang. Dapat juga dijelaskan sebagai tingkat
kedalaman iman seseorang terhadap
agamanya atau lebih luas lagi terhadap Tuhan atau kekuasaan gaib (Waluyo, 1991:
107). Kedalaman rasa ketuhanan itu tidak lepas dari bentuk fisik yang terlahir
dalam pemilihan kata, ungkapan, lambang, kiasan dan sebagainya yang menunjukkan
betapa erat hubungan antara penyair dengan Tuhan. Juga menunjukkan bagaimana
penyair ingin Tuhan mengisi seluruh kalbunya. (Waluyo, 1991: 108).
2) Tema Kemanusiaan
Tema kemanusiaan bermaksud menunjukkan betapa tingginya martabat manusia
dan bermaksud meyakinkan pembaca bahwa
setiap manusia memiliki harkat dan martabat yang sama. Perbedaan kekayaan, pangkat
dan kedudukan seseorang tidak boleh menjadi sebab adanya perbedaan perlakuan
terhadap kemanusiaan seseorang (Waluyo, 1991: 112).
3) Tema Patriotisme /
Kebangsaan
Tema patriotisme dapat meningkatkan
perasaan cinta akan bangsa dan tanah air. Banyak puisi yang melukiskan
perjuangan merebut kemerdekaan dan mengisahkan
riwayat pahlawan yang berjuang merebut kemerdekaan atau melawan
penjajah. Tema patriot juga dapat diwujudkan dalam bentuk usaha penyair untuk
membina kesatuan bangsa atau membina
rasa kenasionalan (Waluyo, 1991: 115).
4) Tema Kedaulatan Rakyat
Penyair begitu sensitif
perasaannya untuk memperjuangkan kedaulatan rakyat dan menentang sikap
sewenang-wenang pihak yang berkuasa, di dapati dalam puisi protes. Penyair
berharap orang yang berkuasa memikirkan nasib si miskin. Diharapkan penyair
agar kita semua mengejar kekayaan pribadi, namun juga mengusahakan
kesejahteraan bersama.
5) Tema Keadilan Sosial
Nada protes sosial sebenarnya lebih banyak menyuarakan tema
keadilan sosial dari pada tema kedaulatan rakyat. Yang dituliskan dalam tema
keadilan sosial adalah ketidakadilan dalam masyarakat dengan tujuan untuk
mengetuk nurani pembaca agar keadilan sosial ditegakkan dan diperjuangkan.
b. Perasaan Penyair (Feeling)
Perasaan (feeling) merupakan sikap penyair terhadap pokok persoalan yang
ditampilkannya. Perasaan penyair dalam puisinya dapat dikenal melalui
penggunaan ungkapan-ungkapan yang
digunakan dalam puisinya karena dalam menciptakan puisi suasana hati penyair
juga ikut diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca (Waluyo, 1991:
121). Hal ini selaras dengan pendapat Tarigan (1984:11) yang
menyatakan bahwa rasa adalah sikap penyair terhadap pokok permasalahan
yang terkandung dalam puisinya.
c. Nada dan Suasana
Menurut Tarigan
(1984: 17) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan nada dalam dunia perpuisian
adalah sikap sang penyair terhadap pembacanya atau dengan kata lain sikap sang
penyair terhadap para penikmat karyanya.
d. Amanat (Pesan)
Penyair sebagai sastrawan dan
anggota masyarakat baik secara sadar atau tidak merasa bertanggugjawab menjaga
kelangsungan hidup sesuai dengan hati nuraninya. Oleh karena itu, puisi selalu
ingin mengandung amanat (pesan). Meskipun penyair tidak secara khusus dan
sengaja mencantumkan amanat dalam puisinya. amanat tersirat di balik kata dan
juga di balik tema yang diungkapkan penyair (Waluyo, 1991: 130). Amanat adalah
maksud yang hendak disampaikan atau himbauan,pesan, tujuan yang hendak
disampaikan penyair melalui puisinya.
2. Struktur Fisik Puisi
Struktur fisik puisi adalah unsur pembangun puisi dari luar (Waluyo,
1991: 71). Puisi disusun dari kata dengan bahasa yang indah dan bermakna yang
dituliskan dalam bentuk bait-bait. Orang dapat membedakan mana puisi dan
mana bukan puisi berdasarkan bentuk lahir atau fisik yang terlihat.
Berikut ini
akan dibahas struktur fisik puisi yang meliputi : diksi, imajinasi, kata
konkret, majas, verifikasi, majas dan tipografi.
a. Diksi atau Pilihan Kata
Salah satu hal yang ditonjolkan dalam
puisi adalah kata-katanya
ataupun pilihan katanya. Bahasa
merupakan sarana utama dalam puisi. Dalam menciptakan sebuah puisi penyair
mempunyai tujuan yang hendak disampaikan kepada pembaca melalui puisinya.
Penyair ingin mencurahkan perasaan dan isi pikirannya dengan setepat-tepatnya
seperti yang dialami hatinya. Selain itu juga ia ingin mengekspresikannya
dengan ekspresi yang dapat menjelmakan pengalaman jiwanya. Untuk itulah harus
dipilih kata-kata yang setepat-tepatnya. Penyair juga ingin mempertimbangkan
perbedaan arti yang sekecil-kecilnya dengan cermat.
Penyair harus
cermat memilih kata-kata karena kata-kata yang ditulis harus dipertimbangkan
maknanya, kompisisi bunyi, dalam rima dan irama serta kedudukan kata itu di
tengah konteks kata lainnya, dan kedudukan kata dalam keseluruhan puisi
itu. Dengan uraian singkat diatas, ditegaskan kembali betapa pentingnya
diksi bagi suatu puisi. Menurut Tarigan (1984: 30), pilihan kata yang tepat dapat
mencerminkan ruang, waktu, falsafah, amanat, efek, nada suatu puisi dengan
tepat.
b. Imajinasi
Semua
penyair ingin menyuguhkan pengalaman batin yang pernah dialaminya kepada para
pembacanya melalui karyanya. Salah satu usaha untuk memenuhi keinginan tersebut
ialah dengan pemilihan serta penggunaan kata-kata dalam puisinya (Tarigan,
1984: 30). Ada hubungan yang erat antara pemilihan kata-kata, pengimajian dan
kata konkret, di mana diksi yang dipilih harus menghasilkan dan karena itu kata-kata menjadi lebih konkret
seperti yang kita hayati dalam penglihatan, pendengaran atau cita rasa.
Pengimajian dibatasi dengan pengertian kata atau susunan kata-kata yang dapat
mengungkapkan pengalaman sensoris seperti penglihatan, pendengaran dan perasaan
(Waluyo, 1991: 97).
Pilihan serta penggunaan kata-kata
yang tepat dapat memperkuat serta memperjelas daya bayang pikiran
manusia dan energi tersebut dapat mendorong imajinasi atau daya bayang
kita untuk menjelmakan gambaran yang nyata. Dengan menarik perhatian kita pada
beberapa perasaan jasmani sang penyair berusaha membangkitkan pikiran dan
perasaan para penikmat sehingga mereka menganggap bahwa merekalah yang
benar-benar mengalami peristiwa jasmaniah tersebut (Tarigan, 1984: 30).
Dengan menarik perhatian pembacanya
melalui kata dan daya imajinasi akan memunculkan sesuatu yang lain yang belum
pernah dirasakan oleh pembaca sebelumnya.
Segala yang dirasai atau dialami secara imajinatif inilah
yang biasa dikenal dengan istilah imagery
atau imaji atau pengimajian (Tarigan, 1984: 30).
Dalam
puisi kita kenal bermacam-macam (gambaran
angan) yang dihasilkan oleh indera pengihatan, pendengaran, pengecapan,
rabaan, penciuman, pemikiran dan gerakan (Pradopo, 1990: 81). Selanjutnya
terdapat juga imaji penglihatan (visual), imaji pendengaran (auditif) dan imaji cita rasa (taktil) (Waluyo, 1991: 79). Semua imaji di atas bila dijadikan satu,
secara keseluruhan dikenal beberapa macam imajinasi, yaitu :
1) Imajinasi Visual, yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca
seolah-olah seperti melihat sendiri
apa yang dikemukakan atau diceritakan oleh penyair.
2) Imajinasi Auditori, yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca
seperti mendengar sendiri apa yang
dikemukakan penyair. Suara dan bunyi yang dipergunakan
tepat sekali untuk melukiskan hal yang dikemukakan, hal ini sering menggunakan kata-kata
onomatope.
3) Imajinasi Articulatori, yakni imajinasi
yang menyebabkan pembaca seperti
mendengar bunyi-bunyi dengan artikulasi-artikulasi tertentu pada bagian mulut waktu kita membaca sajak itu
seakan-akan kita melihat gerakan-gerakan mulut membunyikannya, sehingga ikut bagian-bagian
mulut kita dengan sendirinya
4)Imajinasi
Olfaktori, yakni imajinasi penciuman atau pembawaan dengan membaca atau
mendengar kata-kata tertentu kita seperti mencium bau sesuatu. Kita seperti
mencium bau rumput yang sedang dibakar, kita seperti mencium bau tanah yang baru dicangkul, kita
seperti mencium bau bunga mawar, kita seperti
mencium bau apel yang sedap dan sebagainya.
5)Imajinasi
Gustatori, yakni imajinasi pencicipan. Dengan membaca
atau mendengar kata-kata atau
kalimat-kalimat tertentu kita seperti mencicipi suatu benda yang menimbulkan rasa asin, pahit, asam dan sebagainya.
6) Imajinasi
Faktual, yakni imajinasi rasa kulit, yang menyebabkan kita seperti merasakan di bagian kulit badan kita
rasanya nyeri, rasa dingin, atau rasa panas oleh tekanan udara atau oleh
perubahan suhu udara.
7)Imajinasi
Kinaestetik, yakni imajinasi gerakan tubuh atau otot yang menyebabkan kita
merasakan atau melihat gerakan badan atau otot-otot tubuh.
8)Imajinasi
Organik, yakni imajinasi badan yang menyebabkan kita seperti melihat atau
merasakan badan yang capai, lesu, loyo, ngantuk, lapar, lemas, mual, pusing dan
sebagainya.
Imaji-imaji di atas tidak dipergunakan
secara terpisah oleh penyair melainkan dipergunakan bersama-sama, saling
memperkuat dan saling menambah kepuitisannya (Pradopo, 1990: 81).
c. Kata Konkret
Salah satu cara
untuk membangkitkan daya bayang atau daya imajinasi para penikmat sastra
khususnya puisi adalah dengan menggunakan kata-kata yang tepat, kata-kata yang
kongkret, yang dapat menyaran pada suatu pengertian menyeluruh. Semakin tepat
sang penyair menggunakan kata-kata atau bahasa dalam karya sastranya maka akan
semakin kuat juga daya pemikat untuk penikmat sastra sehingga penikmat sastra
akan merasakan sensasi yang berbeda. Para penikmat sastra akan menganggap bahwa
mereka benar-benar melihat, mendengar,
merasakan, dan mengalami segala sesuatu yang dialami oleh sang penyair
(Tarigan, 1984: 32). Dengan keterangan singkat diatas maka dapat disimpulkan
bahwa kata konkret adalah kata-kata yang dapat di tangkap dengan indra
(Siswanto, 2008: 119).
d. Majas atau Bahasa
Figuratif
Penyair
menggunakan bahasa yang bersusun-susun atau berpigura sehingga disebut bahasa figuratif.
Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis artinya memancarkan banyak
makna atau kaya akan makna. Bahasa figuratif adalah bahasa yang digunakan oleh
penyair untuk menyatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara
tidak langsung mengungkapkan makna kata atau bahasanya bermakna kias atau makna
lambang (Waluyo, 1991: 83).
Bahasa kias merupakan wujud
penggunaan bahasa yang mampu mengekspresikan
makna dasar ke asosi lain. Kiasan yang tepat dapat menolong pembaca
merasakan dan melihat seperti apa yang dilihat atau apa yang dirasakan penulis.
Seperti yang diungkapkan Pradopo bahwa kias dapat menciptakan gambaran angan/
citraan (imagery) dalam diri pembaca
yang menyerupai gambar yang dihasilkan oleh pengungkapan penyair terhadap obyek
yang dapat dilihat mata, saraf penglihatan, atau daerah otak yang bersangkutan
(1990:80). Bahasa figuratif dipandang lebih efektif untuk menyatakan apa yang
dimaksudkan penyair karena: (1) Bahasa figuratif mampu menghasilkan kesenangan
imajinatif, (2) Bahasa figuratif dalah cara untuk menghasilkan imaji tambahan
dalam puisi sehingga yang abstrak menjadi kongret dan menjadikan puisi lebih
nikmat dibaca, (3) Bahasa figuratif adalah cara menambah intensitas, (4) Bahasa
figuratif adalah cara untuk mengkonsentrasikan makna yang hendak disampaikan
dan cara menyampaikan sesuatu yang banyak dan luas dengan bahasa yang singkat
(Waluyo, 1991: 83).
Adapun bahasa
kias yang biasa digunakan dalam puisi ataupun karya sastra lainnya yaitu:
1)
Perbandingan/ Perumpamaan (Simile)
Perbandingan atau perumpamaan (simile)
ialah bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal yang lain dengan
mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, bak, semisal, seumpama,
laksana dan kata-kata pembanding lainnya.
2) Metafora
Bahasa kiasan
seperti perbandingan, hanya tidak mempergunakan kata-kata pembanding seperti
bagai, laksana dan sebagainya. Metafora ini menyatakan sesuatu sebagai hal yang
sama atau seharga dengan yang lain yang sesungguhnya tidak sama.
3) Personifikasi
Kiasan ini mempersamakan benda dengan
manusia. Benda-benda mati dibuat dapat
berbuat, berfikir dan sebagainya. Seperti halnya manusia dan banyak
dipergunakan penyair dulu sampai sekarang. Personifikasi membuat hidup lukisan
di samping itu memberi kejelasan kebenaran, memberikan bayangan angan yang
konkret.
4)
Hiperbola
Kiasan yang
berlebih-lebihan. Penyair merasa perlu melebih-lebihkan hal yang dibandingkan
itu agar mendapat perhatian yang lebih seksama dari pembaca.
5) Metonimia
Bahasa kiasan yang lebih jarang
dijumpai pemakaiannya. Metonimia ini dalam bahasa Indonesia sering disebut
kiasan pengganti nama. Bahasa ini berupa penggunaan sebuah atribut sebuah objek
atau penggunaan sesuatu yang sangat dekat hubungannya dengan mengganti objek
tersebut.
6)
Sinekdoki (Syneadoche)
Bahasa kiasan
yang menyebutkan sesuatu bagian yang penting suatu benda (hal) untuk benda atau
hal itu sendiri.
Sinekdoke ada
dua macam
- Pars Prototo
: sebagian untuk keseluruhan
- Totum
Proparte : keseluruhan untuk sebagian
(Pradopo, 1990:
78).
7) Allegori
Cerita kiasan
ataupun lukisan kiasan. Cerita kiasan atau lukisan kiasan ini mengkiaskan hal
lain atau kejadian lain.
Perlambangan
yang dipergunakan dalam puisi :
a) Lambang warna
b) Lambang benda : penggunaan
benda untuk menggantikan sesuatu yang ingin diucapkan.
c) Lambang bunyi :
bunyi yang diciptakan penyair untuk melambangkan perasaan tertentu.
d) Lambang suasana :
suasana yang dilambangkan dengan suasana lain yang lebih konkre
e. Verifikasi (Rima,
Ritma dan Metrum)
Versifikasi terdiri dari rima, ritma
dan metrum.
1) Rima
Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk
membentuk musikalisasi atau orkestrasi sehingga puisi menjadi
menarik untuk dibaca.
Dalam puisi
banyak jenis rima yang kita jumpai antara lain :
a) Menurut
bunyinya :
(1) Rima
sempurna bila seluruh suku akhir sama bunyinya
(2) Rima tak
sempurna bila sebagian suku akhir sama bunyinya
(3)
Rima mutlak bila seluruh bunyi kata itu sama
(4) Asonansi
perulangan bunyi vokal dalam satu kata
(5)
Aliterasi : perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan
(6)
Pisonansi (rima rangka) bila konsonan yang membentuk kata itu sama, namun vokalnya berbeda.
b) Menurut letaknya:
(1) Rima
depan : bila kata pada permulaan baris sama
(2)
Rima tengah : bila kata atau suku kata di tengah baris suatu puisi itu sama
(3)
Rima akhir bila perulangan kata terletak pada akhir baris
(4)
Rima tegak bila kata pada akhir baris sama dengan kata pada permulaan baris
(5)
Rima datar bila perulangan itu terdapat pada satu baris.
2) Ritma
Pertentangan bunyi, tinggi rendah, panjang pendek, keras
lemah, yang mengalun dengan teratur dan berulang-ulang sehingga membentuk
keindahan (Waluyo, 1991: 94). Ritma terdiri dari tiga macam, yaitu :
a) Andante : Kata
yang terdiri dari dua vokal, yang menimbulkan irama lambat
b)
Alegro : Kata bervokal tiga, menimbulkan irama sedang
c) Motto Alegro :
kata yang bervokal empat yang menyebabkan irama cepat.
3) Metrum
Perulangan
kata yang tetap bersifat statis (Waluyo, 1991: 94). Nama metrum didapati dalam
puisi sastra lama. Pengertian metrum menurut Pradopo adalah irama yang tetap,
pergantiannya sudah tetap menurut pola tertentu (Pradopo, 1990: 40).
Peranan metrum sangat penting dalam pembacaan puisi dan
deklamasi.
f.
Tipografi atau Perwajahan
Ciri-ciri yang
dapat dilihat sepintas dari puisi adalah perwajahannya atau tipografinya. Melalui indera mata tampak bahwa
puisi tersusun atas kata-kata yang membentuk larik-larik puisi. Larik-larik itu
disusun ke bawah dan terikat dalam bait-bait.
Banyak kata, larik maupun bait ditentukan oleh keseluruhan makna puisi
yang ingin dituliskan penyair. Dengan demikian satu bait puisi bisa
terdiri dari satu kata bahkan satu huruf saja. Dalam hal cara penulisannya
puisi tidak selalu harus ditulis dari tepi kiri dan berakhir di tepi kanan
seperti bentuk tulisan umumnya. Susunan penulisan dalam puisi disebut tipografi
(Pradopo, 1990: 210).
Struktur fisik
puisi membentuk tipografi yang khas puisi. Tiprografi puisi merupakan bentuk visual yang bisa
memberi makna tambahan dan bentuknya bisa didapati pada jenis puisi konkret.
Tipografi bentuknya bermacam-macam antara lain berbentuk grafis, kaligrafi,
kerucut dan sebagainya. Jadi tipografi memberikan ciri khas
puisi pada periode angkatan tertentu.
Bab III
Analisis data
A.Biografi sastrawan
· Amir hamzah
Tengku Amir Hamzah yang bernama
lengkap Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera adalah seorang sastrawan
Indonesia angkatan Pujangga Baru. Nama Amir Hamzah diberikan oleh sang ayah,
Tengku Muhammad Adil, karena kekagumannya kepada Hikayat Amir Hamzah. Dia lahir
di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur pada tanggal 28 Februari 1911 dalam
lingkungan keluarga bangsawan Melayu (Kesultanan Langkat). Amir Hamzah mulai
mengenyam pendidikan pada umur 5 tahun dengan bersekolah di Langkatsche School
di Tanjung Pura pada 1916. Setamat dari Langkatsche School, Amir Hamzah
melanjutkan pendidikannya di MULO, sekolah tinggi di Medan. Setahun kemudian,
Amir Hamzah pindah ke Batavia (Jakarta) untuk melanjutkan sekolah di
Christelijk MULO Menjangan dan lulus pada tahun 1927. Amir Hamzah kemudian
melanjutkan studinya di AMS.
Di
sana dia mengambil disiplin ilmu pada Jurusan Sastra Timur. Amir Hamzah adalah
seorang siswa yang memiliki kedisiplinan tinggi. Disiplin dan ketertiban itu
nampak pula dari keadaan kamarnya. Segalanya serba beres, buku-bukunya rapih
tersusun di atas rak, pakaian tidak tergantung di mana saja, dan sprei tempat
tidurnya pun licin tidak kerisit kisut. Persis seperti kamar seorang gadis
remaja. Selama mengenyam pendidikan di Solo, Amir Hamzah mulai mengasah
minatnya pada sastra sekaligus obsesi kepenyairannya. Pada waktu-waktu itulah
Amir Hamzah mulai menulis beberapa sajak pertamanya yang kemudian
terangkum dalam antologi Buah Rindu yang terbitAglemenee Middelbare School
merupakan sekolah lanjutan tingkat atas di Solo,
Jawa Tengah.
pada tahun 1943. Pada waktu
tinggal di Solo, Amir Hamzah juga menjalin pertemanan dengan Armijn Pane dan
Achdiat K Mihardja. Ketiganya sama-sama mengenyam pendidikan di AMS Solo,
bahkan mereka satu kelas di sekolah itu. Di kemudian hari, ketiga orang ini
mempunyai tempat tersendiri dalam ranah kesusastraan di Indonesia. Setelah
menyelesaikan studinya di Solo, Amir Hamzah kembali ke Jakarta untuk
melanjutkan studi ke Sekolah Hakim Tinggi pada awal tahun 1934. Semasa di
Jakarta, rasa kebangsaan di dalam jiwa Amir Hamzah semakin kuat dan berpengaruh
pada wataknya. Bersama beberapa orang rekannya di Perguruan Rakyat, termasuk
Soemanang, Soegiarti, Sutan Takdir Alisyahbana, Armijn Pane, dan lainnya, Amir
Hamzah menggagas penerbitan majalah Poedjangga Baroe. Amir Hamzah mulai
menyiarkan sajak-sajak karyanya ketika masih tinggal di Solo. Di majalah
Timboel yang diasuh Sanusi Pane, Amir Hamzah menyiarkan puisinya berjudul
“Mabuk” dan “Sunyi” yang menandai debutnya di dunia kesusastraan Indonesia.
Sejak saat itu, banyak sekali karya sastra yang dibuat oleh Amir Hamzah.
Revolusi sosial yang meletus pada 3 Maret 1946 menjadi akhir bagi kehidupan
Amir Hamzah. Dia menjadi salah satu korban penangkapan yang dilakukan oleh
pasukan Pesindo. Kala itu pasukan Pesindo menangkapi sekitar 21 tokoh feodal
termasuk di antaranya adalah Amir Hamzah pada 7 Maret 1946. Pada tanggal 20
Maret 1946, orang-orang yang ditangkap itu dihukum mati. Amir Hamzah wafat di
Kuala Begumit dan dimakamkan di pemakaman Mesjid Azizi. Amir Hamzah kemudian
diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor
106/ tahun 1975, tanggal 3 November 1975 Hingga kematiannya, Amir Hamzah telah
mewariskan 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris, 1 prosa liris
terjemahan, 13 prosa, dan 1 prosa terjemahan. Jumlah keseluruhan
karya itu adalah 160 tulisan. Jumlah
karya tersebut masih ditambah dengan Setanggi Timur yang merupakan puisi
terjemahan, dan terjemahan Bhagawat Gita. Dari jumlah itu, ada juga beberapa
tulisan yang tidak sempat dipublikasikan. Berdasarkan hal yang disebutkan di
atas, maka penulis tertarik untuk mengangkat dan menulis tentang Amir Hamzah
ini sebagai bahan referensi dan syarat kelulusan dari mata kuliah Sejarah
Pergerakan di Sumatera Timur, Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya USU
dengan judul :
Perjuangan Tengku Amir Hamzah Di Langkat Tahun 1946
·
Taufik ismail
Taufiq Ismail lahir di Bukittinggi,
25 Juni 1935. Masa kanak-kanak sebelum sekolah dilalui di Pekalongan. Ia
pertama masuk sekolah rakyat di Solo. Selanjutnya, ia berpindah ke Semarang,
Salatiga, dan menamatkan sekolah rakyat di Yogya. Ia masuk SMP di Bukittinggi,
SMA di Bogor, dan kembali ke Pekalongan. Pada tahun 1956--1957 ia memenangkan
beasiswa American Field Service Interntional School guna mengikuti Whitefish
Bay High School di Milwaukee, Wisconsin, AS, angkatan pertama dari Indonesia.
Ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Indonesia (sekarang IPB), dan tamat pada tahun1963. Pada tahun 1971--1972 dan 1991--1992 ia mengikuti International Writing Program, University of Iowa, Iowa City, Amerika Serikat. Ia juga belajar pada Faculty of Languange and Literature, American University in Cairo, Mesir, pada tahun 1993. Karena pecah Perang Teluk, Taufiq pulang ke Indonesia sebelum selesai studi bahasanya.
Semasa mahasiswa Taufiq Ismail aktif dalam berbagai kegiatan. Tercatat, ia pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa FKHP UI (1960--1961) dan Wakil Ketua Dewan Mahasiswa (1960--1962).
Ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Indonesia (sekarang IPB), dan tamat pada tahun1963. Pada tahun 1971--1972 dan 1991--1992 ia mengikuti International Writing Program, University of Iowa, Iowa City, Amerika Serikat. Ia juga belajar pada Faculty of Languange and Literature, American University in Cairo, Mesir, pada tahun 1993. Karena pecah Perang Teluk, Taufiq pulang ke Indonesia sebelum selesai studi bahasanya.
Semasa mahasiswa Taufiq Ismail aktif dalam berbagai kegiatan. Tercatat, ia pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa FKHP UI (1960--1961) dan Wakil Ketua Dewan Mahasiswa (1960--1962).
Ia pernah mengajar sebagai guru
bahasa di SMA Regina Pacis, Bogor (1963-1965), guru Ilmu Pengantar Peternakan
di Pesantren Darul Fallah, Ciampea (1962), dan asisten dosen Manajemen
Peternakan Fakultas Peternakan, Universitas Indonesia Bogor dan IPB
(1961-1964). Karena menandatangani Manifes Kebudayaan, yang dinyatakan
terlarang oleh Presiden Soekarno, ia batal dikirim untuk studi lanjutan ke
Universitas Kentucky dan Florida. Ia kemudian dipecat sebagai pegawai negeri
pada tahun 1964.
Taufiq menjadi kolumnis Harian KAMI
pada tahun 1966-1970. Kemudian, Taufiq bersama Mochtar Lubis, P.K. Oyong,
Zaini, dan Arief Budiman mendirikan Yayasan Indonesia, yang kemudian juga
melahirkan majalah sastra Horison (1966). Sampai sekarang ini ia memimpin
majalah itu.
Taufiq merupakan salah seorang
pendiri Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM), dan Lembaga
Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) (1968). Di ketiga lembaga itu Taufiq
mendapat berbagai tugas, yaitu Sekretaris Pelaksana DKJ, Pj. Direktur TIM, dan
Rektor LPKJ (1968--1978). Setelah berhenti dari tugas itu, Taufiq bekerja di
perusahaan swasta, sebagai Manajer Hubungan Luar PT Unilever Indonesia
(1978-1990).
Pada tahun 1993 Taufiq diundang
menjadi pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia.
Sebagai penyair, Taufiq telah
membacakan puisinya di berbagai tempat, baik di luar negeri maupun di dalam
negeri. Dalam setiap peristiwa yang bersejarah di Indonesia Taufiq selalu
tampil dengan membacakan puisi-puisinya, seperti jatuhnya Rezim Soeharto,
peristiwa Trisakti, dan peristiwa Pengeboman Bali.
Hasil karya Taufik Ismail antara lain:
Hasil karya Taufik Ismail antara lain:
1. Tirani, Birpen KAMI
Pusat (1966)
2. Benteng, Litera (
1966)
3. Buku Tamu Musium Perjuangan,
Dewan Kesenian Jakarta (buklet baca puisi) (1972)
4. Sajak Ladang Jagung,
Pustaka Jaya (1974)
5. Puisi-puisi Langit,
Yayasan Ananda (buklet baca puisi) (1990)
6. Prahara Budaya (bersama
D.S. Moeljanto), Mizan (1995)
7. Ketika Kata Ketika Warna (editor
bersama Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabbar, Amri Yahya, dan Agus Dermawan,
antologi puisi 50 penyair dan repoduksi lukisan 50 pelukis, dua bahasa,
memperingati ulangtahun ke-50 RI), Yayasan Ananda (1995)
8. Malu (Aku) Jadi Orang
Indonesia, Yayasan Ananda (1998)
Beberapa Karya terjemahan:
Beberapa Karya terjemahan:
1. Banjour Tristesse (terjemahan
novel karya Francoise Sagan, 1960)
2. Cerita tentang Atom (terjemahan karya Mau Freeman, 1962)
3. Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam (dari buku The Reconstruction of Religious Thought in Islam, M. Iqbal (bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad), Tintamas (1964)
2. Cerita tentang Atom (terjemahan karya Mau Freeman, 1962)
3. Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam (dari buku The Reconstruction of Religious Thought in Islam, M. Iqbal (bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad), Tintamas (1964)
Atas kerja sama dengan musisi sejak
1974, terutama dengan Himpunan Musik Bimbo (Hardjakusumah bersaudara), Chrisye,
Ian Antono, dan Ucok Harahap, Taufiq telah menghasilkan sebanyak 75 lagu.
Ia pernah mewakili Indonesia baca
puisi dan festival sastra di 24 kota di Asia, Amerika, Australia, Eropa, dan
Afrika sejak 1970. Puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, Sunda,
Bali, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan Cina.
B. Puisi dan unsur intrinsik
Ø Puisi Amir hamzah dan unsur intrinsik
CEMPAKA…
Kaya : amir hamzah
Cempaka,
aduhai bunga penglipur lara
Tempat
cinta duduk bersemayam
Sampaikan
pelukku, wahai kusuma
Pada
dinda setiap malam
Sungguh
harum sedup malam
Sungguh
pelik bunga kamboja
Tetapi
tuan, aduhai pualam
Pakaian
adinda setiap masa
Sungguh
tak kelihatan ia berbunga
Cempaka
tersembunyi dalam sanggul
Tetapi
harumnya, aduhai kelana
Didalam
rambut duduk tersimpul
Amat
bersahaja cempaka bunga
Putih
arona, hijau nan tampuk
Pantas
benar suntingan adinda
Terlebih
pula disanggul duduk
1. Unsur intrinsik
isi puisi
·
Objek : wanita
Karena
dalam puisi cempaka tersebut meceritakan rasa kagum kepada seorang wanita .
·
Tema : cinta kepada pujaan hati
Puisi yang berjudul cempaka tentang cinta
kepada pujaan hati perhatikan bait ke 1:
Cempaka,
aduhai bunga penglipur lara
Tempat
cinta duduk bersemayam
Sampaikan
pelukku, wahai kusuma
Pada
dinda setiap malam
Menjelaskan
tentang bunga cempaka yang berbaunya harum berwarna putih ,si penyair
menyatakan “aduhai” rasa kagum kepada wanita .”penglipur lara” si penyair
ketika memikirkan wanita tersebut susah melakukan perbuatan apa,hilang lenyap
rasanya ketika memikirkan wanita tersebut karena rasa cinta yang terlalu
berlebihan .
·
Nada : sikap penyair terhadap objek dalam puisi
tersebut adalah bahagia,lantas
kebahagiaan perasaannya ia komunikasikan pula kepada pembaca dengan di
ibaratkan bunga cempaka yang berbaunya harum sekali .nada puisi “cempaka”
adalah senang ,bahagia terdapat dalam bait pertama
Cempaka,
aduhai bunga penglipur lara
Tempat
cinta duduk bersemayam
Sampaikan
pelukku, wahai kusuma
Pada
dinda setiap malam
·
Rasa : “cempaka
aduhai penglipur lara “ dan”sungguh pelik bunga kamboja “. Dari penjelasan
tersebut menggambarkan rasa kangen oleh seseorang penyair terhadap
seseorang wanita dan ras rindu.penyair
menggambarkan rasa kangen tersebut di ibaratkan bunga cempaka dan kamboja yang
buah nya harum.
·
Amanat : ingin
memberitahu perasaan yang di alami terhadap pujaan hatinya dan ingin si pembaca
mengetahui bunga cempaka dan kamboja hanpir sama dan berbaunya harum.
2.
Unsur bentuk
atau Struktur
·
Diksi : Dari puisi
cempaka bahwa kata-kata di pilih amir hamzah adalah kata-kata yang di anggap
mengandung nilai tertentu dan tepat menyentuh hati para pembaca .contoh nya
bunga “cempaka” dan “kamboja” yang berbaunya harum berwarna putih karena makna
denotativ nya sama .
·
Pengimajian
: visual
karena melihat sesuatu yang indah dilihat tergambar
ibaratkan seorang wanita dan keimajinasian yaitu bersifat imajinatif dan penuh
perasan.
·
kata
kongkrit :
Cempaka,
aduhai bunga penglipur lara
Tempat
cinta duduk bersemayam
Dari dua pernyataan tersebut
memberikan gambaran tetntang bunga yang
berbaunya harum sehingga mampu “aduhai”menyatakan rasa kagum kepada seseorang
dan bunga cempaka tersebut di ibaratkan sesuatu tempat yang menaruh cinta .
·
Gaya Bahasa
: personifikasi dan metafora
Cempaka,
aduhai bunga penglipur lara
Tempat
cinta duduk bersemayam
Sampaikan
pelukku, wahai kusuma
Pada
dinda setiap malam
Sungguh
harum sedup malam
Sungguh
pelik bunga kamboja
Tetapi
tuan, aduhai pualam
Pakaian
adinda setiap masa
Karena
dalam puisi cempaka membuat perbandinga dua hal yang secara langsung dalam
bentuk singkat yang menghubungkan pokok pertam dan kedua.dan menggunakan
benda-benda mati yang bernyawa seolah-olah bernyawa menjadi memiliki sifat .
·
Rima : silang
Sungguh
harum sedup malam (a)
Sungguh
pelik bunga kamboja(b)
Tetapi
tuan, aduhai pualam(a)
Pakaian
adinda setiap masa(b)
·
Irama : sahdu
atau santai
Karena penuh perasaan dan perenungan rasa cinta kepada
seseorang .
·
Tipografi :rata kiri
karena penulisan tiap bait nya adalah si sebelah kiri .
Karya : Amir Hamzah
Membubung badanku, melambung,
mengawan
naik, naik, tipis-rampis, kudus halus
melayang-terbang, mengembang-kembang
menyerupa-rupa merona-warni langit-lazwardi.
Bertiup badai merentak topan
larikan daku hembuskan badan
tepukkan daku ke puncak tinggi
ranggitkan daku kelengkung pelangi...
Tenang-tenang anginku sayang
tinggalkan badan di lengkung benang
reda-reda badaiku dalam
ulikkan sepoi sunyikan dendam.
Biarkan daku tinggal di sini
sentosa diriku di sunyi sepi
tiada berharap tiada meminta
jauh dunia di sisi dewa.
naik, naik, tipis-rampis, kudus halus
melayang-terbang, mengembang-kembang
menyerupa-rupa merona-warni langit-lazwardi.
Bertiup badai merentak topan
larikan daku hembuskan badan
tepukkan daku ke puncak tinggi
ranggitkan daku kelengkung pelangi...
Tenang-tenang anginku sayang
tinggalkan badan di lengkung benang
reda-reda badaiku dalam
ulikkan sepoi sunyikan dendam.
Biarkan daku tinggal di sini
sentosa diriku di sunyi sepi
tiada berharap tiada meminta
jauh dunia di sisi dewa.
1. Unsur intrinsik isi
·
objek : roh atau
dewa
tiada berharap tiada meminta
jauh dunia di sisi dewa.
jauh dunia di sisi dewa.
Tidak
berkeinginan tidak mengarapkan sesuati “jauh dunia di sisi dewa”jauh tidak
dekati dengan bumi di sisi samping dewa di ibaratkan roh yang di anggap di
percayai sebagai makhluk halus yang bekuasa atas alam semesta .
·
tema : Doa kepada
dewa
Bertiup badai merentak topan
larikan daku hembuskan badan
tepukkan daku ke puncak tinggi
ranggitkan daku kelengkung pelangi
larikan daku hembuskan badan
tepukkan daku ke puncak tinggi
ranggitkan daku kelengkung pelangi
Bait pertama menggambarkan sebuah cobaan yang menghembuskan .dan dalam
kutipan di atas terdapat kalimat “bertiup badai merentak topan’angin kencang
yang menyertai cuaca buruk sehingga menyentakan kaki dan mengambarkan sebuah
cobaan yang meninggalkan bekas .
·
Nada :Persaan
gundah gelisah lantas kegelisahan atau kegundahan persaanya ia komunikasikan pula
kepada pembaca dengan di ibaratkan bertiup badai merentak topan .
·
Rasa :
Membubung badanku, melambung,
mengawan
naik, naik, tipis-rampis, kudus halus
melayang-terbang, mengembang-kembang
menyerupa-rupa merona-warni langit-lazwardi.
naik, naik, tipis-rampis, kudus halus
melayang-terbang, mengembang-kembang
menyerupa-rupa merona-warni langit-lazwardi.
Dalam bait
ke satu emosi yang taik nurun oleh seorang penyair dan menggambarkan cobaan
yang menghembuskan perassan seseorang tokoh atau penulis yang di dalam nya
terdapat rasa gundah gelisah .
·
Amanat : amanat yang
ingin di sampaikan adalah bahwa dalam dirinya salam diri seseorang pasti akan
mempunyai cobaan dan harus tegar.
2. Unsur Bentuk atau Struktur
·
diksi : dalam puisi
amir hamzah penuh dengan kata konotasi dan kata-kata yang mengangap nilai
tertentu supaya menyentuh hati para pembaca misalnya “bertiup badai merentak
topan ‘’.
·
Kata kongrit
: “bertiup badai merentak topan “angina yang kencang
menyertai cuaca buruk “merentak “menyentakan kaki menjelaskan tetntang keadaan
dan kegelisahan terhadap sang pencipta dan ibaratkan tak berdaya .
·
Gaya Bahasa
: gaya bahas alusi
karena dalam puisi berjudul naik naik menunjukan secara tidak langsung atau
langsung ke suatu peristiwa,contohnya pada bait ke dua ;
Bertiup badai merentak topan
larikan daku hembuskan badan
tepukkan daku ke puncak tinggi
ranggitkan daku kelengkung pelangi...
larikan daku hembuskan badan
tepukkan daku ke puncak tinggi
ranggitkan daku kelengkung pelangi...
·
Rima : Rima kembar
Tenang-tenang anginku sayang(a)
tinggalkan badan di lengkung benang(a)
reda-reda badaiku dalam(a)
ulikkan sepoi sunyikan dendam(a)
tinggalkan badan di lengkung benang(a)
reda-reda badaiku dalam(a)
ulikkan sepoi sunyikan dendam(a)
·
Irama : sedih
Karena memohon kepada sang dewa dalam menggambarkan
liriknya terasa sedih dengan penuh penghayatan
·
Tipografi :rata kiri
karena penulisan perbaitnya yaitu perbaitnya di sebelah kiri contohnya dalam
bait satu sampe terakhir .
PURNAMA
RAYA
karya: Amir Hamzah
Purnama raya
bulan bercahaya
amat cuaca
ke mayapada
Purnama raya
gemala berdendang
tuan berkata
naiklah abang
Purnama raya
bujang berbangsi
kanda mara
memeluk dewi
Purnama raya
bunda mengulik
nyawa adinda
tuan berbisik.
Purnama raya
gadis menutuk
setangan kuraba
pintu diketuk
Purnama raya
bulan bercengkerama
beta berkata
tinggallah nyawa
bulan bercahaya
amat cuaca
ke mayapada
Purnama raya
gemala berdendang
tuan berkata
naiklah abang
Purnama raya
bujang berbangsi
kanda mara
memeluk dewi
Purnama raya
bunda mengulik
nyawa adinda
tuan berbisik.
Purnama raya
gadis menutuk
setangan kuraba
pintu diketuk
Purnama raya
bulan bercengkerama
beta berkata
tinggallah nyawa
Purnama raya
kelihatan jarum
adinda mara
kanda dicium
Purnama raya
cuaca benderang
permata kekanda
pulanglah abang..
kelihatan jarum
adinda mara
kanda dicium
Purnama raya
cuaca benderang
permata kekanda
pulanglah abang..
1. Unsur intrinsik isi
·
objek : purnama raya /bulan
objek bulan
karena pada saat itu bulan terlihat terang semua dan semua orang sedang
beraktifitas pada suasana bulan terang.
·
Tema : keindahan bulan
Keindahan pada
bulan dan disitu cuaca bulan sangat cerah dapat di simpulkan pada kutipan’’purnam
raya ‘’di situ di jelaskan pada suasana bulan bundar benar dan besar dan
becahaya dam di perjelas dengan “amat cuaca’’ yang artinya sangat timbul Nampak
indah.
Di perjelas
dengan bait terakhir
Purnama raya
cuaca benderang
permata kekanda
pulanglah abang...
cuaca benderang
permata kekanda
pulanglah abang...
Bait tersebut
dapat disimpulkan tentang keadaan pada bulan yang becahaya seperti melihat
takjub.
·
Nada :mengajak
sikap penyair
terhadap pembaca mengajak dan memberitahu saja ,lantas memberitahu nya ia
komunikasikan kepada pembaca “purnama raya’’bulan yang bercahacahaya bulat dan
sempurna .
·
Rasa : gembira
Karena dalam
bait pertama menceritakan keindahan purnama raya pada waktu cerah dan bulat dan
pada bait kedua menceritakan akan kenangan ayah nya di perjelas lagi bait ke
tiga menggambarkan kegembiraan pada seseorang.
·
Amanat : penyair pada situasi bulan yang terang indah dilihat semua orang juga
mengalami kegembiraan pada saat itu .
2. Unsur
bentuk atau Struktur
·
Diksi : diksi yang terdapat dalam purnama raya mengandung nilai keindahan yang
tak ternilai oleh semua orang “purnama raya “ yang artinya bulan yang bulat
besar becahaya .
·
Pengimajian : imajinasivisual karena menggambarkan purnama
raya dalam situasi apapun dengan ke
indahan nya terliahat dari bait pertama
Purnama
raya
cuaca benderang
permata kekanda
pulanglah abang...
cuaca benderang
permata kekanda
pulanglah abang...
·
Kata
kongkrit :
Purnama raya
cuaca benderang
permata kekanda
pulanglah abang...
cuaca benderang
permata kekanda
pulanglah abang...
Di dalam
bait dia atas di jelaskan saat bulan bundar dan cerah “amat”ke “mayapada” bumi
yang menyinari begitu indah .
·
Gaya Bahasa
: alusi
Karena pada tiap bait secara lansung ke peristiwa
langsung yaitu peristiwa alam contohnya pada bait ke dua
Purnama raya
bujang berbangsi
kanda mara
memeluk dewi
bujang berbangsi
kanda mara
memeluk dewi
Artinya pada
bulan bercahaya ada “pangguk”burung elang
malam yang suka memandang bulan ‘’merayu’’meras terharu melihat keaadaan
tersebut.
·
Rima : rima kembar
dan rima silang
Purnama raya (a)
bulan bercahaya (a)
amat cuaca (a)
ke mayapada (a)
Purnama raya(a)
gemala berdendang(b)
tuan berkata(a)
naiklah abang(b)
bulan bercahaya (a)
amat cuaca (a)
ke mayapada (a)
Purnama raya(a)
gemala berdendang(b)
tuan berkata(a)
naiklah abang(b)
·
Irama : mentrum,persamaan
dan gembira
karena jika membaca dalam keadaan nyaring puisi maka
iramanya akan mendekati persamaan ,dan gembira.
·
Tipografi :RATA KIRI
Karena pada tiap bait nya yaitu penulisan nya di kiri
.
Buah rindu.
Karya : amir
hamzag
Dikau sambur
limbur pada senja
Dikau alkamar purnama raya
Asalkan kanda bergurau senda
Dengan adinda tajuk mahkota.
Dikau alkamar purnama raya
Asalkan kanda bergurau senda
Dengan adinda tajuk mahkota.
Di tuan rama –
rama melayang
Di dinda dendang sayang
Asalkan kanda selang menyelang
Melihat adinda kekasih abang.
Di dinda dendang sayang
Asalkan kanda selang menyelang
Melihat adinda kekasih abang.
Ibu, seruku
laksana pemburu
Memikat perkutut di pohon ru
Sepantun swara laguan rindu
Menangisi kelana berhati mutu
Memikat perkutut di pohon ru
Sepantun swara laguan rindu
Menangisi kelana berhati mutu
Kelana jauh duduk
merantau
Dibalik gunumg dewala hijau
Diseberang laut cermin silau
Tanah jawa mahkota pulau…
Dibalik gunumg dewala hijau
Diseberang laut cermin silau
Tanah jawa mahkota pulau…
Buah kenangku
entah kemana
Lalu mengembara kesini sana
Haram berkata sepatah jua
Ia lalu meninggalkan beta.
Lalu mengembara kesini sana
Haram berkata sepatah jua
Ia lalu meninggalkan beta.
Ibu lihatlah
anakmu muda belia
Setiap waktu sepanjang masa
Duduk termenung berhati duka
Laksana Asmara kehilangan seroja.
Setiap waktu sepanjang masa
Duduk termenung berhati duka
Laksana Asmara kehilangan seroja.
Bunda waktu tuan
melahirkan beta
Pada subuh kembang cempaka
Adakah ibunda menaruh sangka
Bahwa begini peminta anakda ?
Pada subuh kembang cempaka
Adakah ibunda menaruh sangka
Bahwa begini peminta anakda ?
Wah kalau begini
naga – naganya
Kayu basah dimakan api
Aduh kalau begini laku rupanya
Tentulah badan lekaslah fani.
Kayu basah dimakan api
Aduh kalau begini laku rupanya
Tentulah badan lekaslah fani.
1.unsur intrinsik isi
·
Objek : seorang
wanita pujaan hati.
Karena dalam puis buah rindu si penyair sedang di
landa rindu kepada kekasihnya .
·
Tema : dilanda
rindu kepada kekasih.
Pengarang pada saat itu sedang di landa rindu kepada
kekasihnya karena merantau jauh ,di tengah kegalauan kerinduan dirinya kepada gadis itu . amir hamzah pun
menceritakan apa yang di alaminya kepada ibunya .contohnya pada bait pertama ;
Dikau sambur
limbur pada senja
Dikau alkamar purnama raya
Asalkan kanda bergurau senda
Dengan adinda tajuk mahkota.
Dikau alkamar purnama raya
Asalkan kanda bergurau senda
Dengan adinda tajuk mahkota.
“dikau sambur libur pada senja “Kamu seperti penerang aku
menemui titik sulit dalam hidup“dikau alkamar purnama raya “kamu baaikan
penerang di saat aku menemui ttik sulit dalam hidup .
·
Nada :memberiahu
Nada pada puis buah rindu tersebut memberitahu kepada
pembaca pada saat itu agar bisa mencuri waktu dan mampu berjumpa dengan
kekasihnya ,terlihat dalam bait ke dua
Di
tuan rama – rama melayang
Di dinda dendang sayang
Asalkan kanda selang menyelang
Melihat adinda kekasih abang
Di dinda dendang sayang
Asalkan kanda selang menyelang
Melihat adinda kekasih abang
·
Rasa :kangen rindu
Karena puisi
buah rindu merupakan ungkapan isi
hatinya pada saat itu ,kau meninggalkan aku tanpa mengatakan apapun sebelumnya
tiba-tiba memutuskan pergi dan sedih penyair tersebut .tergambarkan dalam bait
ke lima
Buah
kenangku entah kemana
Lalu mengembara kesini sana
Haram berkata sepatah jua
Ia lalu meninggalkan beta.
Lalu mengembara kesini sana
Haram berkata sepatah jua
Ia lalu meninggalkan beta.
·
Amanat : amanat yang ingin di sampaikan pada pembaca adalah ingin mengungkapkan
isi hatinya karena buah rindu atau wanita tersebut pergi begitu saja tanpa
sebab sehingga penyair tersebut merindukan nya .
2.Unsur bentuk atau Struktur
·
Diksi : pilihan kata yang di sampaikan oleh pengarang tersebut menggambarkan
isi hatinya karena buah rindu pergi
begitu saja tanpa sebab.sehingga penyair tersebut merindukannya .
·
Pengimajian : imajinasi visual
Karena ingin
mencurahkan perasaannya ungkapan isi hatinya pada saat itu dan melihat bayangan
terhadap seseorang yang di sayanginya
terlihat dalam bait pertama :
Dikau
sambur limbur pada senja
Dikau alkamar purnama raya
Asalkan kanda bergurau senda
Dengan adinda tajuk mahkota
Dikau alkamar purnama raya
Asalkan kanda bergurau senda
Dengan adinda tajuk mahkota
·
Kata kongkrit : “melihat adinda kekasih abang ‘’ itu menjelaskan bahwa
yang di rindukan dan kecwakan nya adalah kekasih tercinta .’’ia meninggalkan
beta ‘’ dalam kutipan tersebut jelas bagaimana ia meninggal kan beta yaitu aku.
·
Gaya Bahasa : asosiasi dan hiperbola
Gaya Bahasa
asosiasi ‘’KAYU BASAH DI MAKAN API’’
Dan gaya Bahasa
hiperbola terdapat dalam bait pertama
Dikau sambur
limbur pada senja
Dikau alkamar purnama raya
Asalkan kanda bergurau senda
Dengan adinda tajuk mahkota.
Dikau alkamar purnama raya
Asalkan kanda bergurau senda
Dengan adinda tajuk mahkota.
·
Rima : rima kembar
Puisi buah rindu
mempunyai 32 baris dengan bentuk seakan bercerita dan mempunyai rima kembar terdapat dalam bait
ke enam .
Ibu lihatlah
anakmu muda belia (a)
Setiap waktu sepanjang masa(a)
Duduk termenung berhati duka(a)
Laksana Asmara kehilangan seroja.(a)
Setiap waktu sepanjang masa(a)
Duduk termenung berhati duka(a)
Laksana Asmara kehilangan seroja.(a)
·
Irama : sahdu
Karena dalam isi cerita tiap bait nya
yaitu tentang kerinduan terhadap kekasihnya
dan mendalami isi dalam cerita tersebut.
·
Tipografi
: rata kiri karena penulisan tiap bait nya adalah si
sebelah kiri .
BERLAGU
HATIKU
karya: Amir Hamzah
Bertangkai bunga kusunting
kujunjung kupuja, kurenung
berlagu hatiku bagai seruling
kukira sekalini menyecap untung.
Dalam hatiku kuikat istana
kusemayamkan tuan digeta kencana
kuhamburkan kusuma cempaka mulia
kan hamparan turun dewi kakanda...
Tetapi engkau orang biasa
merana sahaja tiada berguna
malu bertalu kerana aku
ganjil terpencil berpaut kedahulu.
kujunjung kupuja, kurenung
berlagu hatiku bagai seruling
kukira sekalini menyecap untung.
Dalam hatiku kuikat istana
kusemayamkan tuan digeta kencana
kuhamburkan kusuma cempaka mulia
kan hamparan turun dewi kakanda...
Tetapi engkau orang biasa
merana sahaja tiada berguna
malu bertalu kerana aku
ganjil terpencil berpaut kedahulu.
1.unsur intrinsik isi
·
Objek : seorang
wanita
karena dalam judul tersebut berlagu hatiku sudah jelas
yang artinya dengan sebuah perasaan.
·
Tema :kegelisahan
perasaan
Bertangkai bunga kusunting
kujunjung kupuja, kurenung
berlagu hatiku bagai seruling
kukira sekalini menyecap untung.
kujunjung kupuja, kurenung
berlagu hatiku bagai seruling
kukira sekalini menyecap untung.
Karena dalam
bait pertama menjelaskan bagaimana rasa kegelisahaan pada seseorang yang di
puja dan memandang bunga lama-lama dalam kegelisahaan nya seperti mengalir
dalam seruling ke dalam hati .
·
Nada : sikap
penyair terhadap pembaca yaitu memberitahu kegelisahaan hatinya pada pembaca
dan terhadap objek nya yaitu kepada perempuan terdapat dalam kutipan
“beritangkai bunga kusunting ‘’
·
Rasa : kangen
sedih,gelisah,senang
Karena dalam puisi tersebut perasaan penyair campur
aduk dalam perasaan tersebut di ibaratkan bunyi seruling.
Dan terdapat dalam bait ke dua dan ketiga
Dalam hatiku kuikat istana
kusemayamkan tuan digeta kencana
kuhamburkan kusuma cempaka mulia
kan hamparan turun dewi kakanda...
Tetapi engkau orang biasa
merana sahaja tiada berguna
malu bertalu kerana aku
ganjil terpencil berpaut kedahulu
kusemayamkan tuan digeta kencana
kuhamburkan kusuma cempaka mulia
kan hamparan turun dewi kakanda...
Tetapi engkau orang biasa
merana sahaja tiada berguna
malu bertalu kerana aku
ganjil terpencil berpaut kedahulu
·
Amanat : ingin
memberitahu bagaimana isi hatinya yang sedang penuh perasaan sedih,gelisah,senang
terhadap pujaan hatinya
2.unsur bentuk struktur
·
diksi :pilihan kata
dari puisi tersebut adalah “berlagu hatiku “ artinya dengan lagu jadi dengan
lagu merasakan kenikmatan rasa yang berbeda ,dengan menceritakan perasaan yang
di alami oleh pengarang.
·
pengimajian : imajinasi
verbal dan visual karena terdapat oleh kata
kata-katadalam pikiran manusiadan proses didalam otak terdapat dalam bait
pertama yang menggambarkan imajinasi verbal.
·
kata
kongkrtit : “bertangkai bunga ku sunting kujungjung kupuja kurenung”
di dalam rangkaian tersebut menjelaskan tentang kegelisahan hatinya yang di
ibaratkan bunga yang di petik seperti perasaanya yang pada saat itu setelah
dipetik di pikirkan keadaan perasaanya pada saat itu.
·
Gaya Bahasa
: -bahasa personifikasi jenis gaya bahasa ini dapat di
jumpai pada baris ketiga, bait pertama yakni pada “berlagu hatiku”hati yang
merupakan organ tubuh dan benda mati di ibaratkan sebagai benda hidup karena
dianggap dapat berlagu atau bernyanyi. Bahkan dianggap dengan merdu bagaikan
suara seruling, hal ini dapat dilihat pada bait pertama barisan ketiga “berlagu
hatiku bagai seruling”.
-gaya bahasa aferesis: dapat dilihat pada bait pertama
dan kedua, yakni, pada ka kusunting , kujungjung, kupuja, kurenung, kukira,
kuikat,kusemayamkan ,kuhamburkan.
·
Rima : rima kembar
dan rima terus
Bertangkai bunga kusunting (a)
kujunjung kupuja, kurenung(a)
berlagu hatiku bagai seruling(a)
kukira sekalini menyecap untung.(a)
Dalam hatiku kuikat istana(a)
kusemayamkan tuan digeta kencana(a)
kuhamburkan kusuma cempaka mulia(b)
kan hamparan turun dewi kakanda...(b)
kujunjung kupuja, kurenung(a)
berlagu hatiku bagai seruling(a)
kukira sekalini menyecap untung.(a)
Dalam hatiku kuikat istana(a)
kusemayamkan tuan digeta kencana(a)
kuhamburkan kusuma cempaka mulia(b)
kan hamparan turun dewi kakanda...(b)
·
irama : metrum
karena dalam bait ,memabaca iramanya tetap karena oleh
suku kata yang terakhir tetap contoh nya dalam bait ke tiga.
Tetapi engkau orang biasa
merana sahaja tiada berguna
malu bertalu kerana aku
ganjil terpencil berpaut kedahulu
merana sahaja tiada berguna
malu bertalu kerana aku
ganjil terpencil berpaut kedahulu
·
tipogrfi :rata kiri
karena dalam tiap baitnya penulisan di sebelah kiri.
MALAM
karya: Amir Hamzah
Daun bergamit berpaling muka
mengambang tenang di laut cahaya
tunduk mengurai surai terurai
kelapa lampai melambai bidai.
nyala pelita menguntum melati
gelanggang sinar mengembang lemah
angin mengusap menyeyang pipi
balik-berbalik menyerah-yerah.
Air mengalir mengilau-sinau
riak bergulung pecah memecah
nagasari keluar meninjau
membanding purnama di langit cerah.
Lepas rangkum pandan wangi
terserak harum pemuja rama
hinggap mendakap kupu berahi
berbuai-buai terlayang lena
Adikku sayang berpangku guring
rambutmu tuan kusut melipu
aduh bahagia bunga kemuning
diri dihimpit kucupan rindu.
mengambang tenang di laut cahaya
tunduk mengurai surai terurai
kelapa lampai melambai bidai.
nyala pelita menguntum melati
gelanggang sinar mengembang lemah
angin mengusap menyeyang pipi
balik-berbalik menyerah-yerah.
Air mengalir mengilau-sinau
riak bergulung pecah memecah
nagasari keluar meninjau
membanding purnama di langit cerah.
Lepas rangkum pandan wangi
terserak harum pemuja rama
hinggap mendakap kupu berahi
berbuai-buai terlayang lena
Adikku sayang berpangku guring
rambutmu tuan kusut melipu
aduh bahagia bunga kemuning
diri dihimpit kucupan rindu.
1.
unsur intrinsik isi
·
objek : wanita
karena dalam tiap baitnya
menceritakan keindahan pada malam dan merindukan pujaan hatinya .
·
tema : kerinduan pada malam
hari
karena dalam bait bait
pertama menjelaskan tentang
“daun bergamit berpaling di
muka “
Daun bergoyang terkena
hembusan angin sehingga kelopak daun tidak bertemu antara bagian atas dan
bagian bawah.
“mengembang tenang di laut
Tunduk mengurai suari
terurai”
Dalam
kutipan di atas menjelaskan dauin iyu
begitu tenang seperti perasaannya.”tunduk mengurai surai terurai” bila di
kejauhan di malam hari yang hanya di hiasi sinar rembulan .
·
nada : sikap penyair hanya ingin
memeberitahu saja atau memberitahu terhadap objek dalam puisi malam tersebut,kerinduannya
komunikasikan pula pada suasana malam hari yang tenang.
·
Rasa : rindu,kangen
sikap penyair terhadap
objek atau pokok persoalan yang di hadapinya adalah rindu pada bait ke tiga
Air mengalir mengilau-sinau
riak bergulung pecah memecah
nagasari keluar meninjau
membanding purnama di langit cerah.
riak bergulung pecah memecah
nagasari keluar meninjau
membanding purnama di langit cerah.
Pada bait ketiga menjelaskan wangi
dan daun pandan yang terhempas oleh angin ,sehingga menyebarkan wanginya
kemana-mana menjebak siapapun yang mencium wanginya .sehingga terbuai yang
memabukan seperti kerinduan pada kekasihnya
·
Amanat :ingin
memberitahu suasana pada malam hari kepada pembaca bait terakhir suasana malam
hari itu dilanda kerinduan pada pujaan hati .
2. Unsur bentuk atau isi
·
Diksi : pilihan kata pada puisi
tersebut “malam”karena menjelaskan suasana pada malam hari contoh terdapat
dalam bait ke tiga larik ke satu “air mengalir mengilau senau” air yang
terlihat silau sebab terkena cahaya .
Air mengalir
pecah memecah
Riak
berguling pecah memecah
Nagasari
keluar meninjau
Membanding
purnama raya
Menjelaskan air yang agak berombak
terkena hembusan angin malam,lalu ada
yang keluar membandingkan bulan purnama di langit yang cerah sungguh
paduan warna yang kontras.
·
Pengimajian
: karena dalam
tiap bait menjelaskan suasana pada malam hari dan terbentuk dengan kata-kata
sendiri
·
Kata
kongkrit :’’membandingkan purnama di langit cerah” pengarang
menjelaskan suasana pada malam hari yang cerah sehingga bulan terlihat jelas.
·
Gaya bahasa
: hiperbola
terdapat dalam bait ke tiga
Air mengalir mengilau-sinau
riak bergulung pecah memecah
nagasari keluar meninjau
membanding purnama di langit cerah
riak bergulung pecah memecah
nagasari keluar meninjau
membanding purnama di langit cerah
Karena bersifat melebihkan sesuatu
,sehingga mendapatkan susuna kata yang indah dalam puis dan gaya bahasa
personifikasi terdapat pada bait ke satu .
·
Rima : rima silang
Air mengalir mengilau-sinau (a)
riak bergulung pecah memecah(b)
nagasari keluar meninjau(a)
membanding purnama di langit cerah(b)
riak bergulung pecah memecah(b)
nagasari keluar meninjau(a)
membanding purnama di langit cerah(b)
·
Irama :bunyi yang berturut-turut
seacara teratur,naik dan tetap
·
Tifografi :rata kiri karena dalam
puisi awalan penulisan puisi di sebelah kiri.
BERDIRI
AKU
Berdiri aku di senja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang
Angin pulang menyeduk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas.
Benang raja mencelup ujung
Naik marak mengerak corak
Elang leka sayap tergulung
dimabuk wama berarak-arak.
Dalam rupa maha sempuma
Rindu-sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Menyecap hidup bertentu tuju
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang
Angin pulang menyeduk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas.
Benang raja mencelup ujung
Naik marak mengerak corak
Elang leka sayap tergulung
dimabuk wama berarak-arak.
Dalam rupa maha sempuma
Rindu-sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Menyecap hidup bertentu tuju
1. Unsur
intrinsik isi
·
Objek : wanita
Karena dalam objek tersebut
menceritakan perpisahan dengan kekasihnya dan dia harus pulang ke medan menikah
dengan putrid pamannya .
·
Tema
: kesedihan yang mendalam
Tema tersebut kesedihan yang
mendalam digambarkan dalam suasana pantai sore pada bait pertama:
Berdiri aku di senja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang
Dengan demikian penyair hanya mampu
melihat keindahan alam sekitar karena kebahagiaanya dan harapan telah hilang,
wujud perasaan galau penyair dalam beberapa bait perasaanya seperti di
permainkan ombak dan angim.
·
Nada : sikap
penyair terhadap pembaca memeberitahu hatinya yang dilanda sedih terdapat dalam
bait ke tiga.
Benang raja mencelup ujung
Naik marak mengerak corak
Elang leka sayap tergulung
dimabuk wama berarak-arak.
Naik marak mengerak corak
Elang leka sayap tergulung
dimabuk wama berarak-arak.
Dalam kutipan tersebut pembaca membertahu keindahan
pantai pada waktu sore yang sunyi sehingga kesedihan hati nya kerasa.
·
Rasa : poko
persoalanya yang dihadapinya kesedihan karena perpisahan dengan kekasihnya perasan
sedih yang sangat mendalam digambarkan penyair dengan suasana sunyi di pantai
sore.
·
Amanat : ingin tidak
dipisahkan kekasih yang dirindukannya dan tidak mau meskipun dia harus pualng
ke medan karena pernikahan dengan putri pamannya harus ditolak .
2. Unsur bentuk atau Struktur isi
·
Dikisi: pilihan
kata yang di pilih adalah yang penuh kontasi contoh nya kata “maha sempurna “
dalam akhir bait juga merupakan arti kontasi dari tuhan yang maha sempurna.
·
Pengimajian
: imajinasi
visual karena seolah-olah melihat suasana pantai yang indah. Keindahan yang
harus terlihat dari bait pertama.
Berdiri aku di senja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang
·
Kata
kongrit: “berdiri aku “dari judul tersebut sudah terlihat seseorang yang
sedang berdiri memikirkan sesuatu yang sedang memikirkan seseorang .
·
Gaya bahasa
: gaya bahasa personifikasi ada juga
gaya metafora yang terlihat dari kalimat “benang raja” mencelup ujung dan dalam
rupa “maha sempurna” penyiar membandingkan apa yang dilihat dan dialami dengan
kata “benang raja”dan “maha sempurna”.
·
Rima : rima silang
karena terdapat tiap bait sampe akhir rimanya silang contoh:
Angin
pulang menyeduk bumi (a)
Menepuk
teluk mengempas emas (b)
Lari
kegunung memuncak sunyi (a)
Berayun-ayun
di atas (b)
·
Irama: iramannya persamaan karena susu kata dalam
puisi yang telah tetap, sehingga kemukinan irama tetap akan terwujud contoh pada
bait ke tiga
Benang raja mencelup ujung
Naik marak mengerak corak
Elang leka sayap tergulung
dimabuk wama berarak-arak.
Naik marak mengerak corak
Elang leka sayap tergulung
dimabuk wama berarak-arak.
Tipografi
: tifografi
dalam puisitersebut adalah rata kiri karena tiap baris disebelah kiri.
Ø Puisi taufik
ismail dan unsur intrinsik
SEORANG TUKANG RAMBUTAN PADA ISTRINYA
“Tadi siang ada yang mati,
Dan yang mengantar banyak sekali
Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah
Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!
Sampai bensin juga turun harganya
Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula
Mereka kehausan datam panas bukan main
Terbakar muka di atas truk terbuka
Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita, bu
Biarlah sepuluh ikat juga
Memang sudah rezeki mereka
Mereka berteriak-teriak kegirangan dan berebutan
Seperti anak-anak kecil
“Hidup tukang rambutan! Hidup tukang rambutani”
Dan menyoraki saya. Betul bu, menyoraki saya
Dan ada yang turun dari truk, bu
Mengejar dan menyalami saya
“Hidup pak rambutan!” sorak mereka
Saya dipanggul dan diarak-arak sebentar
“Hidup pak rambutan!” sorak mereka
“Terima kasih, pak, terima kasih!
Bapak setuju karni, bukan?”
Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara
“Doakan perjuangan kami, pak,”
Mereka naik truk kembali
Masih meneriakkan terima kasih mereka
“Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!”
Saya tersedu, bu. Saya tersedu
Belum pernah seumur hidup
Orang berterima-kasih begitu jujurnya
Pada orang kecil seperti kita.
“Tadi siang ada yang mati,
Dan yang mengantar banyak sekali
Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah
Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!
Sampai bensin juga turun harganya
Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula
Mereka kehausan datam panas bukan main
Terbakar muka di atas truk terbuka
Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita, bu
Biarlah sepuluh ikat juga
Memang sudah rezeki mereka
Mereka berteriak-teriak kegirangan dan berebutan
Seperti anak-anak kecil
“Hidup tukang rambutan! Hidup tukang rambutani”
Dan menyoraki saya. Betul bu, menyoraki saya
Dan ada yang turun dari truk, bu
Mengejar dan menyalami saya
“Hidup pak rambutan!” sorak mereka
Saya dipanggul dan diarak-arak sebentar
“Hidup pak rambutan!” sorak mereka
“Terima kasih, pak, terima kasih!
Bapak setuju karni, bukan?”
Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara
“Doakan perjuangan kami, pak,”
Mereka naik truk kembali
Masih meneriakkan terima kasih mereka
“Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!”
Saya tersedu, bu. Saya tersedu
Belum pernah seumur hidup
Orang berterima-kasih begitu jujurnya
Pada orang kecil seperti kita.
1.unsur
intrinsik isi
·
Objeg : pemerintah
karena sikap penyair terhadap kenaikan harga.
·
Tema : keadilan
rakyat
karena unjuk
rasa para mahasiswa/rakyat terhadap pemerintah yang menaikan harga. Dari demo
tersebut ada salah satu yang tewas demi memperjuangkan agar harga barang turun
demi kepentingan masarakat.Terbentuk dalam kutipan puisi di bawah ini .
“Tadi siang ada yang mati,
Dan yang mengantar banyak sekali
Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah
Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!
Sampai bensin juga turun harganya
Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula
Mereka kehausan datam panas bukan main
Terbakar muka di atas truk terbuka
Dan yang mengantar banyak sekali
Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah
Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!
Sampai bensin juga turun harganya
Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula
Mereka kehausan datam panas bukan main
Terbakar muka di atas truk terbuka
·
Nada: keritikan pada pemerintah yang
menimbulkan suasan yang kacau dan semangat dalam memberontak karena banyak
mahasiswa yang pantang menyerah dalam memperjuangkan hak-hak rakyat.
·
Rasa: perasaan
terhadap puisi tersebut marah karena pemerintah yang melakukan hal kesewenangan
dengan menaikan harga.
·
amanat: melakukan
hal sekecil apapun dan kita melakukan dengan iklas ,maka akan mendapatkan
balasan yang lebih besar. Contoh pada tukang rambutan yang mengucapkan terimakasi
terhadap mahasiswa yang telah berunjuk rasa.
2.unsur
Bentuk atau Struktur isi
·
Diksi : tidak
menggunakan diksi karena banyak menggunakan kata-kata dalam kehidupan
sehari-hari. Dari pada menggunakan kata-kata konotatif. Contoh
Tadi siang ada yang mati
Dan yang mengantar banyak sekali
·
Pengimajian
: imajinasi
visual contohnya
Tadi siang ada yang mati
Dan yang mengantar banyak sekali
Imajinasi : imajinasi
taktil ( sesuatu dapat dirasakan ) yang dulu berteriak : dua raus,dua ratus
·
Kata
kongkrit : “ terbakar mukanya di atas truk terbuka “ maksudnya adalah para
demostran kepanasan dengan sinar matahari yang sangat terik
·
Gaya bahasa:
hiperbola
“Terbakar
mukanya di atas truk terbuka”
·
Irama : tiap lariknya banyak menggunakan
huruf a yang di padu dengan huruf u yang melambakan kebenaranian mahasiswa
·
Rima : rima bebas
Karena dalam bait nya tidak ada rima
nya sehingga dapat di katakana rima bebas .
·
Tipografi: tipografi
yang terdapat dalam puisi tersebut memiliki larik-larik yang hamper sama panjang
antara larik pertama dan keduannya disebabkan karena untuk pemasatan makna
disetiap lariknya.
Kerendahan hati
Karya :
taufik ismail
Kalau
engkau tak mampu menjadi beringin
Yang
tegak di pucuk bukit
Jadilah
belukar ,tetapi belukar yang baik,
Yang
tumbuh di depan danau
Kalau
kamu tak sanggup menjadi belukar ,
Jadilah
saja rumput,tetapi rumput yang
Memperkuat
tanggul pinggiran jalan
Kalau
engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah
saja jalan kecil,
Tetapi
jalan setapak yang
Membawa
orang ke mata air
Tidaklah semua menjadi kapten
Tentu
harus ada awak kapalnnya…
Bukan
besar kecilnya tugas yang
Menjadikan
tinggi
Rendahnya
nilai dirimu
Jadilah
saja dirimu..
Sebaik-baiknya
dari dirimu sendiri
1.unsur intrinsik isi
·
Objek : semua orang
Karena dalam
puisi kerendahan hati menujukan kepada semua orang untuk menjadi dirinya
sendiri. Walaupun baik buruk nya dirinya sendiri.
·
Tema : jadilah diri
sendiri
Dapat
disimpulkan tentang kerendahan hati seseorang untuk bisa menjadi dirinya
sendiri, yang terpenting mampu menjadi seorang yang bermanfaat bagi orang lain.
·
Nada: hening
Karena puisi
ini banyak menggunakan perumpamaan yang menyuruh manusia merendahkan diri dan
bermanfaat bagi orang lain suasana hening tersebut dapat dikutip di bait
tersebut dibawah ini
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan
raya
Jadilah saja jalan kecil
Iya tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air
·
Rasa: haru
Karena dalam
puisi ini dijelaskan apakah kita sudah bermanfaat bagi orang lain, Sedangkan
sebagai manusia harus bisa membantu orang
lain yang membutuhkan semua orang tau kita tidak dapat hidup tanpa orang
lain.
·
amanat: kita sebagai
manusia jangan lah sombong dan penyair itu memberitahu kepada pembaca harus
memiliki sikaprendah hati, membantu orang yang membutuhkandan menjadi diri kita
sendiri.
2. unsur bentuk atau struktur
·
Diksi: perumpamaan
karena dalam puisi “kedalaman hati “ perumpamaan yang
digunakan seperti tumbuhan ataupun sebuah tempat . seperti pada potongan puisi
tersebut.
Kalau kamu tak sanggup menjadi
Belukar
Jadilah saja rumput , tetap rumput
yang
Memperkuat tanggul pinggir jalan
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan
raya
Jadikan saja jalan kecil
·
Pengima
jian: visual “ yang tegak di puncak bukit “ seolah melihat puncak bukit yang gagah dan tegak.
·
Kata
kongkrit:
“kalau kamu tak sanggup menjadi
belukar.
Jadikan saja rumput,tetap rumput
yang memperkuat tanggul pinggir jalan” maksudnya tidak harus meniru seorang
atau ingin menjadi seperti orang lain tidaklah perlu cukup menjadi dirinya saja
sudah membuat orang lain bahagia.
·
Gaya bahasa
: personifikasi
terlihat dari potongan puisi “jalan setapak yang membawa ke mata air “ dan
kalimat gaya bahasa hiperbola “tidak semua kapten menjadi kapten “
·
Rima: rima bebas
tetapi meskipun demikian hal ini tidak mempengaruhi keindahan dari makna puisi
ini
·
Irama: penuh
perasaan dan haru karena sikap penyiar ingin menyampaikan pesan kepada si
pembaca.
·
Tipografi: larik-larik yang hamper tidak sama dengan larik
berikutnya larik pertama dan kedua merupakan kalimat sambung. Karena ingin
menjawab dari kalimat sebelumnya.
Kalau
engkau tak mampu menjadi beringin
Yang
tegak di puncak bukit
jadilah
berlukar, tetapi belukar yang baik.
memperkuat tanggul pinggir jalan
memperkuat tanggul pinggir jalan
Karangan
Bunga
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu.
Ini dari kami
bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang di tembak mati
siang tadi’
(Taufiq Ismail, Tirani, 1966)
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang di tembak mati
siang tadi’
(Taufiq Ismail, Tirani, 1966)
1.unsur
intrinsik
·
Objek : pahlawan
Karena
dalam puisi tersebut menjelaskan bagaimana sikap penyair tehadap pahlawan yang
melawan tirani
·
Tema
: pengorbanan seorang pahlawan
Puisi ini bertema kan tentang pengorbanan seorang pahlawan dalam melawan
golongan tirani, yang pada akhirnya tewas ditembak dan akhirnya hanya
meninggalkan tangisan diantara keluarganya . terbukti dalam bait ke dua:
Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang di tembak mati
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang di tembak mati
·
Nada : duka
Karena puisi ini menjelaskan tentang pengorbanan seseorang yang rela
berkorban demi melawan seorang tirani dan puisi ini juga di ciptakan untuk
mengenang bagai mana pada masa tirani .
·
Rasa : Rasa yang terdapat dalam puisi ini
adalah rasa haru dan duka kepada tiga anak kecil yang membawa karangan bunga
dan terbukti dalam bait di bawah ini
Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang di tembak mati
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang di tembak mati
·
Amanat ; kita harus berjuang
melawan ketidakadilan terhadap tirani. Meskipun kita harus mengorbankan diri
kita sendiri seperti pengorbanan para pahlawan dalam memperjuangkan
kemerdekaan.dan mengingat jasa pahlawan.
2.Unsur
Bentuk atau Struktur
● Diksi : Diksi dalam puisi
ini banyak menggunakan kata-kata yang bersifat konotatif sehingga dapat
menimbulkan makna yang ambigu. Selain bersifat konotatif, puisi ini juga banyak
menggunakan perumpamaan yang mampu memperindah puisi, Agar pembaca turut
merasakan kedukaan, dalam puisi ini banyak menggunakan kata ditembak mati,
pita hitam, pemakaman dan sebagainya.
● Pengimajian ; pengimajian yang
digunakan imaji visual, imaji taktil serta imaji auditif.
imajinasi
visual ;
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
imajinasi auditif dan imajinasi taktil :
Datang ke Salemba
“Ini dari kami bertiga
(
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut
Bagi kakak yang ditembak mati”
● Kata Konkret :
Kata
konkret yang ada dalam puisi ini salah satunya terdapat dalam potongan puisi
berikut :
Alma Mater, janganlah bersedih
Bila arakan ini bergerak pelahan
Menuju pemakaman
Bila arakan ini bergerak pelahan
Menuju pemakaman
Maksudnya dari
potongan puisi itu merupakan suara seseorang yang mengatakan bahwa
mahasiswa tidak boleh menangis biarkan keranda mengantarkan mayat temannya ke
pemakaman.
● Gaya Bahasa ;
Bahasa figuratif yang terdapat dalam puisi ini ada beberapa macam, salah satu
diantaranya adalah metafora atau perumpamaan yang terdapat dalam salah potongan
bait berikut ini :
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Maksudnya Tiga anak kecil disini merupakan tiga orang
mahasiswa yang datang ke rumah rekannya di Salemba yang meninggal karena
ditembak mati.
● Irama
:
Dalam puisi
ini juga jelas menggunakan konsonan dan
dapat menambah suasana duka dalam puisi ini.terdapat dalam bait berikut:
Tiga anak
kecil
Dalam langkah malu-malu
Dalam langkah malu-malu
Datang ke
Salemba
Sore itu.
Sore itu.
·
Rima ; rima
bebas karena dalam puisi taufik ismail tidak memiliki rima dan rima tersebut adalah bebas
● Tipografi
Tipografi yang terdapat dalam puisi Karangan Bunga adalah pada saat menunjukan
keterangan waktu, penyair menyimpannya ke dalam larik yang berbeda. Hal ini
bertujuan untuk menjelaskan proses terjadinya sebuah kejadian.
BAB IV
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Karya sastra merupakan hasil karya
manusia yang berupa imajinasi nya ,karya sastra di bagi menjadi tiga yaitu
puisi,prosa fiksi, dan drama.karya puisi amir hamzah dan taufik ismail yang di
analisis berdasarkan unsur intrinsiknya dapat di simpulakan bahwa karangan
puisi amir hamzah banyak menggunakan bahasa konotif dan kurang di mengerti
sehingga pembaca harus menterjemahkan terlebih dahulu kata tersebut dan dapat
mengetahui isi bacaan tersebut . sedangkan puisi karya taufik ismail penggunaan
bahasa nya dapat di mengerti karna menggunakan bahasa sehari-hari .
Daftar
Pustaka
Herman J. Waluyo. 2010. Pengkajian dan apresiasi puisi. Salatiga: Widya Sari Press
Nurvidha. 2010. Sejarah pujanga baru. Di unduh dari http://nurvidha.wordpress.com hari rabu 20 April 2011 pukul 10.00 wib
http://www.biografiku.com/2009/11/biografi-taufik-ismail.html